Sikap Kami: Kepak Sayap Bank BJB
TAK ada kolaborasi yang sia-sia. Sepanjang kerja sama itu diniatkan dengan niat yang sama baiknya. Kelompok usaha bersama (KUB) Bank BJB dengan perbankan daerah lainnya, adalah hal yang patut didukung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TAK ada kolaborasi yang sia-sia. Sepanjang kerja sama itu diniatkan dengan niat yang sama baiknya. Kelompok usaha bersama (KUB) bank bjb dengan perbankan daerah lainnya, adalah hal yang patut didukung.
KUB adalah salah satu pintu masuk perbankan, dalam hal ini Bank Pembangunan Daerah (BPD), soal kewajiban modal inti sebesar Rp3 triliun sampai akhir 2023. Tetapi, dia bukan sekadar itu. Dia adalah kolaborasi menang-menang di antara dua perbankan daerah.
Hal itu sudah mulai terlihat dari KUB bank bjb-Bank Bengkulu. Terbaru, mereka mulai kerja sama layanan penerimaan pembayaran pajak dan retribusi daerah secara host to host. Dengan begitu, masyarakat Bengkulu bisa memanfaatkan kanal bank bjb untuk membayarkan pajak dan retribusi.
Artinya, pangsa pasar bank bjb menjadi semakin luas. Dengan modal yang tak terlalu besar. Dalam KUB ini, bank bjb menyetorkan “hanya” Rp250 miliar modal untuk Bank Bengkulu.
Kerja sama-kerja sama seperti ini yang akan terus dilanjutkan bank bjb. Ada delapan BPD yang jadi incaran. Tiga di antaranya bahkan sudah mulai masuk dalam diskusi-diskusi antardireksi. Ketiganya dengan Bank Kalteng, BPD Sultra, dan BPD Jambi.
Kerja sama semacam ini patut didukung oleh seluruh pemangku kepentingan bank bjb. Sebab, tidak hanya bisa menyelamatkan BPD di daerah lain, juga memberikan manfaat untuk bank bjb.
Hanya saja, kerja sama semacam itu tentu tidak mudah. Rata-rata pemilik saham BPD adalah “pemain-pemain politik”. Kepala daerah, DPRD, dan sebagainya. Perlu upaya yang lebih kuat untuk mewujudkan hal itu.
Selain rintangan politik, persoalan permodalan juga tidak begitu saja diabaikan. Jika delapan bank ber-KUB dengan bank bjb hingga 2024, dibutuhkan dana tak sedikit. Mencapai Rp2 triliun.
Darimana bank bjb mendapatkan duit sebanyak itu? Right issue lagi? Tahun ini mereka sudah melakukannya. Itu pun dapat tak sampai Rp1 triliun. Sekitar Rp900-an miliar. Sesuai target.
Angka Rp2 triliun itu kira-kira setara dengan keuntungan bank bjb tahun lalu. Maka, betapapun sulitnya, menahan sebagian dividen dan mengkonversinya jadi modal adalah pilihan lain.
Belum tentu semua pemegang saham sejutu. Terlebih, mereka berharap dividen yang lebih “nendang” setelah right issue lalu. Biasanya, dividen itu masuk ke APBD dan dijadikan bagian dari pembangunan daerah.
Tapi, apapun caranya, langkah-langkah harus segera dilakukan manajemen bank bjb. Berkolaborasi dengan BPD-BPD daerah lain dalam format KUB, adalah cara terbaik bank bjb memperluas kepak sayapnya. Dan, dalam dunia perbankan, begitu juga industri lain, perluasan pasar itu adalah salah satu cara terbaik untuk mengokohkan keberadaan entitas bisnis tersebut.***
Editor : Zulfirman

