Sikap Kami: Roller Coaster STY
FANS sepak bola itu seperti pendukung politisi saja. Sepatutnya mereka lebih jernih melihat. Termasuk terhadap Tim Nasional Indonesia, Tim Garuda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
FANS sepak bola itu seperti pendukung politisi saja. Sepatutnya mereka lebih jernih melihat. Termasuk terhadap Tim Nasional Indonesia, Tim Garuda.
Betapa fans timnas itu seperti fans politik, tanyalah kepada Shin Tae-yong. Pelatih Timnas Indonesia hidup seperti di roller-coaster. Kadang disanjung setinggi langit. Ada kalanya terhempas ke dasar bumi.
Saat dikalahkan China dan Jepang, fans timnas menjadikan Shin Tae-yong seperti sasaran tembak. Pemilihan pemain disebut kacau. Pergantian pemain dibilang terlambat.
Tapi, saat Jay Idzes dan kawan-kawan membukukan kemenangan pertama atas Arab Saudi, “dosa” Shin Tae-yong langsung terlupakan. Puja-puja langsung muncul. Pelatih Korea Selatan mendadak jadi pahlawan.
Padahal, tengoklah secara menyeluruh. Hingga kini, Timnas Indonesia menjadi tim Asia Tenggara pertama yang mampu meraih poin terbanyak di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia. Pasukan Shin Tae-yong juga menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara yang tersisa.
Indonesia kini masih berpeluang meraih tiket ke putaran final Piala Dunia. Jarang-jarang itu terjadi. Terakhir, hal serupa sempat terjadi pada tahun 1985 lalu, saat Indonesia kalah dari Korea Selatan saat berebut tiket ke Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Tetapi, memuja habis Shin Tae-yong, hanya karena mampu mengalahkan Arab Saudi, juga tidak sepatutnya. Timnas masih memiliki kelemahan, terutama dalam penguasaan bola dan bangun serangan. Ini yang membuat Indonesia tak berkutik lawan Jepang dan beruntung main imbang lawan Australia.
Memang, jadi penonton, jauh lebih menyenangkan. Bisa menilai apa saja. Menjadi pundit sepak bola bukan berarti seseorang bisa seperti Shin Tae-yong, atau seperti Marselino Ferdinan. Bambang Nurdiansyah, bintang Timnas Indonesia dekade 1980-an yang kemudian jadi pelatih, melihat beratnya tugas pelatih itu.
Tapi, memang begitulah jadi penonton sepak bola. Kadang, mereka tak ubahnya seperti buzzer politik. Kadang, mereka membutakan mata. Padahal, jika melihat lebih objektif, pencapaian tim kali ini patut dipuji.
Peluang Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 memang masih terbuka. Tapi, perlu disadari juga, tidak terlalu besar. Jangan sampai euforia setelah kemenangan atas Arab Saudi membuat semua seolah-olah akan mudah.
Ingat, di sisa kualifikasi, Tim Garuda masih harus melawat ke kandang Jepang dan Australia. Jelas, itu berat. Terutama karena secara teknik dan taktis, mereka terbukti lebih unggul.
Tak salah memang kita berharap lolos ke Piala Dunia 2026. Tapi, harus pula kita siapkan keikhlasan jika hal itu gagal terwujud. (*)
Editor : Zulfirman

