Sikap Kami: Terong Ungu Panjang
TERONG ungu sedang naik daun. Harganya variatif. Tergantung kualitas dan kemasan. Di Pasar Induk Kramatjati, melalui penjualan online, terong ungu kualitas tinggi dijual dengan harga Rp22.500 perkilogram.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TERONG ungu sedang naik daun. Harganya variatif. Tergantung kualitas dan kemasan. Di Pasar Induk Kramatjati, melalui penjualan online, terong ungu kualitas tinggi dijual dengan harga Rp22.500 perkilogram.
Tetapi, sekali lagi, harganya memang variatif. Ada yang dihargai hingga Rp24.900 perkilogram, ada pula yang hanya Rp7.000 setiap kilogramnya. Yang murah ini untuk jenis terong ungu panjang.
Terong ungu layak dikembangkan. Bukan hanya bisa memberi manfaat ekonomi kepada petani, juga manfaat kesehatan bagi masyarakat penikmatnya.
Terong ungu, oleh ahli kesehatan, dianggap baik untuk kesehatan jantung, menurunkan tekanan darah, mencegah kanker, melindungi kesehatan otak, melawan radikal bebas, menstabilkan kadar gula darah, menjaga sistem pencernaan, hingga menurunkan kolesterol.
Harap dicatat, penyakit-penyakit yang bisa dicegah oleh terung ungu adalah penyakit yang membawa kematian tertinggi di negeri ini. Maka, selain budi dayanya yang patut dipompa agresif, pemasyarakatan konsumsi terong ungu juga patut dilakukan.
Jawa Barat sendiri terhitung salah satu wilayah produksi terung ungu yang cukup besar di Indonesia. Bahkan kini mungkin yang terbesar.
Pada tahun 2022, misalnya, produksi terong di Jabar mencapai 1.033.256 kuintal. Angka itu naik cukup tinggi dibanding tahun sebelumnya yang hanya 977.823 kuintal.
Empat kabupaten menjadi sentra produksi terong paling dominan di Jawa Barat. Keempatnya yakni Kabupaten Garut, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bandung.
Peningkatan produksi terong ungu di Jawa Barat menjadi layak lebih dikembangkan, juga karena adanya program makan bergizi gratis (MBG). Terong Jawa Barat, bisa menjadi alternatif sumber sayuran, yang diproduksi di wilayah sekitar, sesuai dengan keinginan ekonomis atas manfaat program MBG itu.
Terlebih, terong ungu juga menjadi tanaman dengan level produksi yang cukup lama. Sampai usia setahun, pohon terong masih bisa berproduksi.
Maka, perlu kolaborasi pentahelix pula untuk bisa mengembangkan tanaman terong ungu ini. Sebab, sekali lagi, dia tak hanya bermanfaat untuk petani dari sisi ekonomi, juga bagi pencegahan beragam penyakit di dunia kesehatan.
Dalam konteks ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat punya tugas untuk bisa terus menumbuhkembangkan produksi tanaman terong ungu ini sebagai salah satu alternatif yang bisa mensejahterakan petani.
Apalagi, penjualan terong ungu belum dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) 12%. Peluang kian mensejahterakan petani menjadi lebih terbuka. (*)
Editor : Zulfirman
