SITH ITB-NHCU Taiwan Gelar Seminar Internasional tentang Demam Berdarah

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB bekerja sama dengan National Chung Hsing University (NCHU) dan Centre for Disease Control (CDC) Taiwan menggelar Seminar International.

SITH ITB-NHCU Taiwan Gelar Seminar Internasional tentang Demam Berdarah
Ilustrasi (okky adiana)

INILAH, Bandung - Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) bekerja sama dengan National Chung Hsing University (NCHU) dan Centre for Disease Control (CDC) Taiwan menggelar Seminar International "Progres of Indonesia Taiwan Dengue Prevention dan Control 2019" kegiatan ini digelar di Gedung CRCS, ruang serba guna lantai 3 dan Auditorium CC Timur, Kampus ITB, pada 15-17 Oktober 2019.

Pada seminar kali ini sebanyak 165 orang menghadiri dari berbagai instansi, seperti Direktorat P2PTVZ Kemenkes RI, Dinas Kesehatan Kota Bandung, Balitbangkes Jakarta, Batan-Jakarta, Dinas Pendidikan Kota Bandung, Rumah Sakit negeri dan swasta se-Kota Bandung.

Kemudian, Fakultas Kedokteran Unpad, FTI ITB, Biofarma, komunitas masyarakat Kelurahan Sekejati dan SDN 261 Margahayu Raya. Tidak hanya itu, seminar diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari negara Taiwan yang berasal dari akademisi dan pemerintah Taiwan.

Pada pembukaan seminar, diresmikan oleh Rektor ITB Prof Kadarsah Suryadi. Dia mengatakan, pelaporan demam berdarah di Indonesia serta pentingnya kolaborasi untuk pencegahan dan penanganan demam berdarah. 

"Intinya adalah kita melakukan penelitian tentang bagaimana mengatasi bahaya demam berdarah. Penelitian ini kita lakukan sudah sejak lama dengan Prof Intan dan intinya kita ingin melakukan suatu collaborative research supaya kita bisa menyelesaikan permasalahan lebih cepat, lebih holistik dan juga lintas disiplin dari disiplin biologi, disiplin matematika, geodesi sampai kepada masalah engineering yang lainnya. Jadi tujuannya adalah kita ingin meredam supaya semakin sedikit, bahkan kita hilangkan bahaya demam berdarah," papar Kadarsah, Rabu (16/10/2019).

Kepala SITH ITB Prof Intan Ahmad menambahkan, demam berdarah selalu menjadi masalah. Di Indonesia sudah mengupayakan berbagai upaya, akan tetapi masih ada demam berdarah itu.

ITB memiliki penelitian yang banyak dan mereka bergabung dengan para peneliti dari Kementerian Kesehatan dari Dinas Kesehatan, juga dari Universitas Padjadjaran (Unpad) termasuk Rumah Sakit Hasan Sadikin.

"Jadi merupakan kerja bersama para expert berkumpul untuk mengendalikan demam berdarah, bekerja sama dengan Taiwan. Karena Taiwan punya pengalaman, bagaimana pengalaman mereka keahlian mereka bergabung, bersatu dengan keahlian kita, untuk mengendalikan demam berdarah," ucapnya.

Selain itu ada juga tentang epidemi global demam berdarah dan pentingnya inisiatif untuk mengupayakan pencegahan dan pengontrolan terhadap demam berdarah yang dapat dimulai dari rumah tangga, dan edukasi sekolah.

Dia menambahkan, selama seminar berlangsung peserta mendapat informasi hasil-hasil penelitian mengenai penyakit demam berdarah. Misalnya, mulai dari hasil Pengendalian Dengue dan Surveilans di Kelurahan Sekejati, Kolaborasi Indonesia-Taiwan dalam upaya pencegahan Dengue, Serologi dan Pengawasan Molekuler dari Virus Dengue, untuk mengetahui metode pengaksesan penyakit terkait analisis spasial dan temporal yang telah dilakukan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). 

"SIG dapat digunakan untuk pemetaan penyakit berdasarkan alamat, yang bermanfaat dalam melihat sebaran penyakit sehingga dapat membantu daerah yang berisiko tinggi, sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai alat perencanaan yang lebih baik di memberantas dan menghilangkan penyakit karena Demam Berdarah," tambahnya.

"Dia hari kedua ada dilaksanakan di SDN 261 Margahayu, Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu untuk melakukan program peluncuran Jumancil SDN 261 Margahayu," tuturnya. Kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat mengenai upaya mengatasi dan mengatasi demam berdarah, baik masyarakat dengan tim sukarelawan maupun masyarakat. 

Hari terakhir kegiatan seminar yang diadakan di Taiwan dan Taiwan, serta aplikasi GIS sebagai intelijen layanan untuk mencegah demam berdarah. Setelah seminar berakhir, dilanjutkan oleh pembicara GIS dengan forum diskusi kelompok, sekaligus jadwal acara yang dipimpin. (okky adiana)


Editor : suroprapanca