SMA Darul Hikam Gelar Cardemi
Saat hendak memilih jurusan kuliah, beberapa orang tua secara terang-terangan maupun halus mengarahkan, bahkan sampai memaksa anaknya untuk memilih sesuai dengan keinginan mereka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Saat hendak memilih jurusan kuliah, beberapa orang tua secara terang-terangan maupun halus mengarahkan, bahkan sampai memaksa anaknya untuk memilih sesuai dengan keinginan mereka.
Sering terjadi, orang tua merasa lebih tahu yang terbaik bagi anaknya. Tidak sedikit dari mereka yang berpikiran bahwa jurusan kuliah tertentu memiliki masa depan yang suram. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara anak dan orang tua saling berlawanan.
Berangkat dari persoalan itu semua, SMA Darul Hikam menggelar Career Development Mission (Cardemi), dengan narasumber utama yakni Ketua Program Studi Ilmu Aktuaria FMIPA Universitas Padjadjaran (Unpad) Achmad Zanbar Soleh. Selain itu, seluruh siswa kelas XII beserta orang tuanya hadir dalam kegiatan tersebut melalui aplikasi Zoom.
"Siswa-siswi banyak bertanya tentang apa itu aktuaris, juga bagaimana peluang kerjanya, kemudian untuk masuk itu harus bisa apa, dari rumpun sosial atau dari rumpun saintek dan lain sebagainya," ujar Achmad, Kamis (4/2/2021).
Dia mengatakan kegiatan ini sangat penting bagi siswa SMA atau remaja yang kemudian masuk ke perguruan tinggi yakni dewasa muda. Saat ini memang kendala perguruan tinggi adalah, siswa-siswa itu asal kuliah, pokoknya jalurnya SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi.
"Setelah lulus SMA kalau tidak melanjutkan sepertinya tidak ada masa depan, kemana aja lah pokoknya asal kuliah gitu. Informasi ini penting sekali, sehingga mereka lebih punya tujuan yang terarah ketimbang hanya mengalir begitu saja dari SMA kemudian kuliah. Itu sangat penting," papar Achmad.
Selain itu, Guru Bimbingan Konseling (BK) SMA Darul Hikam Rahmi Novitasari memaparkan tujuan dari acara ini adalah anak SMA tentunya sangat memerlukan dukungan orang tua untuk membekali dan merencanakan karir pasca-SMA.
Kemudian juga memfasilitasi antara orang tua dan siswa untuk bisa mengomunikasikannya karena beberapa pengalaman itu ada bentrok antara harapan orang tua dan keinginan siswa untuk melanjutkan kuliahnya nanti.
Orang tua juga takut anak menyesali pilihannya sendiri saat merasa salah jurusan. Oleh karena itu, mereka memilihkan program studi (prodi) yang paling aman dan nyaman menurut pandangannya.
"Kendala terbesar dalam menghadapi kegiatan daring ini adalah, keterbatasan waktu, karena biasanya kalau sebelum pandemi, satu hari saja bisa full sosialisasi, baik Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Tetapi karena sekarang melalui virtual, jadi keterbatasan waktu dan juga pembatasan dari kuota instansi. Tapi positifnya orang tua siswa jadi bisa mengikuti dalam kegiatan ini," papar Rahmi.
Dia berharap anak-anak kelas X dan XI bisa lebih mudah dalam mencari eksplorasi jurusan, kemudian universitas dan bisa mengomunikasikan dengan orang tua sedini mungkin mengenai harapan dan juga rencana karir ke depannya. "Tidak ada lagi kasus salah jurusan atau mungkin bentrok dengan orang tua," pungkasnya. (okky adiana)
Editor : suroprapanca

