Solusi AC Pendingin Ramah Lingkungan: Menyejukkan Ruangan Tanpa Kompresor
Di tengah lonjakan suhu global akibat perubahan iklim, permintaan akan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) meningkat drastis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di tengah lonjakan suhu global akibat perubahan iklim, permintaan akan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) meningkat drastis.
Mengutip dari CNN, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan kebutuhan energi untuk pendingin ruangan akan melonjak lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2050. Namun, teknologi pendingin yang ada saat ini justru menyimpan dilema besar karena menyumbang dampak buruk bagi lingkungan.
Beban lingkungan dari Sistem AC Konvensional
Sebagian besar AC tradisional mengandalkan sistem kompresi uap (vapor-compression) yang menyirkulasikan bahan kimia pendingin (refrigeran) berbasis hydrofluorocarbon. Menurut para ahli, gas ini merupakan gas rumah kaca sangat kuat yang dampaknya jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida.
Bocornya gas refrigeran yang menyumbang 2% hingga 3% dari total emisi gas rumah kaca global menjadi ancaman serius karena setara dengan dampak emisi industri penerbangan. Kebocoran ini tidak hanya mencemari atmosfer, tetapi juga membuat mesin bekerja lebih berat sehingga menyedot listrik lebih boros. Saat ini, sektor pendingin ruangan saja sudah mengonsumsi sekitar 10% dari total kebutuhan listrik dunia.
Inovasi Solid-State: Mendinginkan Tanpa Refrigeran
Untuk mengatasi krisis ini, sejumlah perusahaan inovator mulai mengembangkan teknologi solid-state cooling atau pendingin padat. Berbeda dengan AC biasa yang memompa gas, teknologi ini memindahkan panas memanfaatkan pergerakan elektron di dalam material padat seperti bismut, telurium, dan antimon tanpa menggunakan cairan refrigeran maupun komponen bergerak (compressor-less).
Salah satu pelopornya, MIMiC Systems asal Brooklyn, mengembangkan unit pendingin modular skala ruangan. Sistem ini bekerja menyerupai blok Lego yang dapat digabungkan sesuai kebutuhan luas ruangan, mulai dari apartemen hingga gedung perkantoran. Tanpa bagian mesin yang berputar, teknologi ini menjanjikan perawatan yang lebih minim, nol risiko kebocoran gas, dan penghematan biaya kepemilikan hingga 15%.
Tantangan Menuju Adopsi Massal
Teknologi solid-state masih menghadapi tantangan pada efisiensi energi (Coefficient of Performance) dan biaya produksi. Saat ini, harga unit komersial pertamanya masih berkisar dua kali lipat dari harga AC konvensional.
Kendati demikian, uji coba skala pilot telah dimulai, termasuk instalasi pertama di Vancouver, Kanada. Para pengembang optimistis bahwa seiring berjalannya riset material, efisiensi pendingin tanpa kompresor ini akan melampaui AC tradisional sekaligus menjadi solusi hijau bagi masa depan bumi yang kian memanas.
Editor : Doni Ramdhani

