Star Energy Turut Meningkatkan Keanekaragaman Hayati di Gunung Salak
Star Energy terus berkomitmen untuk membuktikan perusahaan panas bumi bisa selaras dengan upaya konservasi di TNGHS.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Pamijahan – PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd terus berkomitmen untuk membuktikan perusahaan panas bumi bisa selaras dengan upaya konservasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).
Hal itu bisa terwujud melalui program restorasi hutan dan konservasi sumber air. Sebab, PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd telah berhasil meningkatkan indeks keanekaragaman hayati di kawasan TNGHS.
“Dengan berbagai program, sampai 2019, PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd tak hanya berhasil mengubah panas bumi menjadi energi listrik, tetapi juga berhasil meningkatkan indeks keanekaragaman hayati dari 3,90 menjadi 3,93 di kawasan TNGHS,” ujar Manager Policy, Government and Public Affairs (PGPA) PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd Nungki Nursasongko Hendradjati kepada wartawan, Senin 20 September 2021.
Baca Juga: Star Energy Bakal Tingkatkan Produksi Energi Listrik Hingga 390 MW
Ia menerangkan, dari hasil pemantauan satwa kunci yang dilakukan sejak PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd memulai program Prakarsa Lintasan Hijau atau Green Corridor Initiative (GCI) pada 2018, terjadi peningkatan populasi macan tutul Jawa dari 6 ekor menjadi 13 ekor pada 2020, elang Jawa dari 6 ekor menjadi 14 ekor, dan owa Jawa dari 4 ekor menjadi 10 ekor.
Menurutnya, program GCI bertujuan merestorasi 265 hektare hutan untuk menghubungkan dua habitat besar yaitu Gunung Halimun dan Gunung Salak demi kelangsungan ekologi dan habitat dari satwa dilindungi dan terancam punah seperti owa Jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis commata), lutung Jawa (Trachypithecus auratus), elang Jawa (Nisaetus bartelsi), dan macan tutul Jawa (Panthera Pardusmelas). Program GCI meliputi kegiatan ekowisata, restorasi mata air dan konservasi hutan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
"Melalui program ini, PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd berharap dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa ekologi yang terjaga dapat bermanfaat bagi ekonomi berkelanjutan," terangnya.
Baca Juga: Jaga Produksi Listrik, Star Energy Tambah Titik Baru Sumur Panas Bumi
Alumnus Universitas Tri Sakti ini menuturkan program PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd itu juga sejalan dengan upaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memastikan pemanfaatan panas bumi berprinsip konservasi melalui Permen LHK Nomor 46/2016 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Panas Bumi dan Permen LHK Nomor P3/2021 tentang Standar Kegiatan Usaha pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Sektor Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Selain program di atas, PT Star Energy Geothermal Salak Pratama Ltd juga membangun Perpustakaan Taman Pamekar dan Taman Endemik Salak untuk pendidikan lingkungan dan penerbitan buku-buku serta konservasi flora dan fauna endemik langka, seperti pembangunan Suaka Elang oleh Balai TNGHS dan pembentukan Garda Konservasi dengan kegiatan patroli bersama," tutur Nungki.
Baca Juga: PT Star Energy Bantah Tudingan Usahanya Berpotensi Menimbulkan Bencana
Lebih jauh ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 23,9 gigawatt. Pemerintah pusat pun menargetkan potensi ini mampu mendongkrak realisasi bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.
"Karena potensi tersebut sebagian besar berada di kawasan hutan, maka prinsip keselarasan pengusahaan panas bumi dengan konservasi harus dipatuhi oleh pengembang panas bumi," jelasnya. (reza zurifwan)
Editor : inilahkoran

