Tak hanya Anaknya, Isi Chat Grup Orang Tua Pelaku Pelecehan FH UI Buat Warganet Marah
Isi chat grup dari orang tua ke 16 pelaku pelecehan di FH UI jugajadi sosortan karena dinilai meremehkan kasus dan korban.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Saat ini sikap, perilaku dan tindakan orang tua para pelaku kasus pelecehan seksual secara verbal di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) juga menuai sorotan.
Di mana selama sidang audit kasus pelecehan ini berlangsung di UI, para orang tua sengaja menyembunyikan ke-14 pelaku agar tidak muncul selama sidang.
Jadi selama sidang berlangsung hanya 2 pelaku yang ditampilkan di depan publik, namun saat sidang hampir selesai ke-14 pelaku lainnya akhirnya dimunculkan usai korban dan orang tua berdebat di ruangan tempat anak mereka di sembunyikan.
Namun selama sidang ternyata para orang tua tengah memanggil mobil baraccuda karena mereka menilai sidang telah anarkis dan anak mereka telah menjadi korban bukan pelaku lagi.
Hal ini diduga sengaja dilakukan untuk menjaga nama baik keluarga di mana orang tua pelaku merupakan orang terpandang.
Dan saat ini viral isi chat grup WhatsApp orang tua pelaku yang isinya berhasil membuat warganet marah.
Di mana ada seorang ibu pelaku yang menyalahkan korban dan penyebar sehingga pelecehan yang dilakukan anaknya bisa viral.
"Maaf kl boleh tau. Mereka chatnya di grup umum atau privat?
Andai saja si penyebar lebih bijak. Diingatkan/ dinasehatkan terlebih dahulu sesama teman atau melibati pihak kampus (intern saja). Jika tidak berubah baru punishmat.
Kalo disebarkan seperti ini da menjadi bola liar. Semua pihak dirugikan," tulis ibu salah satu pelaku pelecehan di mana pendapatnya tersbeut disetujui oleh orang tua pelaku lainnya.
Para orang tua juga merasa tidak rela jika hanya karena kasus seperti ini anak mereka harus terkena drop out (DO) dari kampus.
"Kemungkinan tersebar bisa di DO, sayang banget tinggal 2 semester," yang dijawab orang tua lainnya, "duh prihatin kasihan ya, semoga ada solusi lain selain DO."
Tidak hanya itu saat salah satu orang tua yang menyatakan bahwa para korban harus lebih diutamakan dan diperhatikan ada komentar orang tua lainnya yang membuat heran, di mana seolah menyepelekan pelecehan secara verbal.
"Pastinya korban sangat perlu diperhatikan. Cuma korbannya emang diapain, lewat fisik atau hanya lewat medsos aja?."
Dalam isi chat yang lainnya ada orang tua yang menyarankan jika anaknya tidak perlu di DO cukup diberi sanksi diskor dan minta maaf saja.
"Nah ini makanya jangan sampai di DO lah, kasih sanksi tertentu misal diskor 1-2 semester dengan tetep bayar UKT (iuran) dan pernyataan minta maaf di sosmed juga."
Nampaknya ada orang tua pelaku juga merasa bahwa anakanya yang sebenarnya korban karena anaknya berada dalam grup yang sama dengan pelaku lainnya namun tidak melakukan apa-apa.
"Yang kasian yang tidak coment sama sekali karena berada di 1 grup tersebut," yang dijawab orang tia lainnya, "Nah kan ini yang sebenernya korban," "Setuju asal jangan sampe DO, kasian."***
Editor : Irma Nurfajri


