Tak Lagi Seragam, Buruan Sae Kini Fleksibel dan Berbasis Data
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, program Buruan Sae akan terus diperkuat dengan pendekatan baru yang lebih adaptif. Ia menolak adanya penyeragaman pola di seluruh rukun warga (RW), mengingat kondisi tiap wilayah yang berbeda-beda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan, program Buruan Sae akan terus diperkuat dengan pendekatan baru yang lebih adaptif. Ia menolak adanya penyeragaman pola di seluruh rukun warga (RW), mengingat kondisi tiap wilayah yang berbeda-beda.
"Setiap RW memiliki keunikan. Ada yang punya lahan luas, ada yang padat penduduk. Semua perlu pendekatan berbeda, tidak boleh ada pola seragam," kata Farhan, Senin 25 Agustus 2025.
Menurutnya, program urban farming yang sempat populer sejak 2012 itu mengalami penurunan pada 2018 karena kurangnya dukungan pemerintah. Buruan Sae dihidupkan kembali untuk mendorong masyarakat memanfaatkan ruang sempit untuk bercocok tanam, memperindah lingkungan, menjaga ketahanan pangan dan menciptakan lapangan kerja.
Namun, Farhan mengkritisi penerapan sebelumnya yang kerap tersandung pola seragam melalui program PIPPK. “Kita punya penyakit lama, semua program ingin diseragamkan. Akhirnya satu pola dipaksakan ke 1.597 RW. Hari ini tidak boleh ada lagi penyeragaman,” ucapnya.
Sebagai langkah konkret, pihaknya meluncurkan layanan catatan informasi (LACI) RW sebagai dasar pengembangan program berbasis data. Sebanyak 151 RW ditunjuk sebagai sampel awal hingga Desember untuk pemetaan kondisi lapangan.
"RW di Cihapit yang rindang, tentu berbeda dengan RW di Sukahaji yang padat tapi masih bisa memelihara kambing dan sapi. Jadi tidak bisa dibuat satu pola," ujar dia.
Ia juga menegaskan, Buruan Sae bukan untuk memasok pasar induk. Melainkan membentuk gaya hidup produktif masyarakat kota. Ia mendorong warga untuk menanam cabai rawit, cabai merah dan bawang merah komoditas yang dinilainya punya dampak psikologis terhadap harga pasar.
"Kalau cabai mahal, semua barang terasa mahal. Kalau tersedia di rumah, masyarakat jadi tenang," jelasnya.
Pihaknya juga meresmikan logo baru Buruan Sae yang kini resmi terdaftar atas nama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung di direktorat jenderal kekayaan intelektual (DJKI). Sebelumnya, logo lama masih terdaftar atas nama pribadi.
"Supaya program ini berkelanjutan. Siapa pun wali kotanya, logo dan kebijakannya tidak berubah," ujar dia.
Lebih lanjut, Farhan juga menekankan pentingnya kewirausahaan di kalangan generasi muda sebagai salah satu solusi penciptaan lapangan kerja. Ia menyebut, jika satu usaha kecil mampu mempekerjakan tiga hingga lima orang. Maka ribuan usaha akan berdampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, sektor pangan tidak hanya berkutat pada penyediaan bahan mentah. Tetapi juga inovasi pengolahan dan pemasaran produk. Buruan Sae juga akan dipadukan dengan program pengolahan sampah Kang Pisman, untuk menghasilkan media tanam ramah lingkungan.
Farhan mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk konsorsium masyarakat sipil seperti prestasi junior Indonesia yang mendukung urban farming dan program kewirausahaan di Bandung. "Kami hadir untuk melanjutkan komitmen pemerintahan sebelumnya. Program yang baik akan dilanjutkan, yang kurang baik akan diperbaiki," jelasnya.
Ia berharap, Buruan Sae menjadi langkah nyata dalam mewujudkan Bandung yang tangguh, berdaya saing, berkelanjutan dan menempatkan kesejahteraan warga sebagai prioritas utama. "Ini bukan sekadar tren atau ajang popularitas. Ini tentang keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat," tandas dia.
Editor : Doni Ramdhani

