Buruan Sae di Kota Bandung Tak Sekadar Tanam Sayur, Delapan Komponen Jadi Fondasi Program
Program Buruan Sae yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, tidak sekadar mengajak warga menanam sayur di lingkungan rumah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORA.ID - Program Buruan Sae yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, tidak sekadar mengajak warga menanam sayur di lingkungan rumah. Program itu dirancang sebagai sistem pangan perkotaan terpadu, yang terdiri dari delapan komponen utama untuk menjamin keberlanjutan, ketahanan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar mengatakan, delapan komponen Buruan Sae dijalankan secara terintegrasi dalam satu kawasan. Sehingga setiap kelompok, tidak hanya fokus pada satu aktivitas.
“Buruan Sae itu bukan hanya tanam sayur. Ada delapan komponen yang kami dorong agar berjalan bersama, mulai dari budidaya, pengelolaan limbah sampai pengolahan hasil agar punya nilai ekonomi,” kata Gin Gin Ginanjar pada Sabtu 17 Januari 2026.
Delapan komponen tersebut meliputi budidaya sayuran, buah-buahan, tanaman obat, ternak ayam, ikan, pembibitan mandiri, pemanfaatan sampah organik menjadi kompos atau maggot dan pengolahan hasil menjadi makanan dan minuman.
Menurut ia, integrasi delapan komponen ini menjadi kunci agar Buruan Sae tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Dengan sistem tersebut, kebutuhan pangan keluarga dapat terpenuhi sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan warga.
“Kalau hanya menanam, semangat warga sering cepat turun. Tapi ketika ada hasil yang bisa diolah, dijual atau dimanfaatkan kembali, keberlanjutan program bisa terjaga,” ucapnya.
Saat ini, jumlah kelompok Buruan Sae di Kota Bandung mencapai 562 kelompok yang tersebar di seluruh kelurahan. Namun dari total 1.597 RW, capaian tersebut masih kurang dari 40 persen.
DKPP Kota Bandung menargetkan setiap RW memiliki minimal satu kelompok Buruan Sae. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah kota menargetkan penambahan sekitar 80 hingga 100 kelompok baru setiap tahun.
“Target minimal kami setiap tahun 80 sampai 100 kelompok baru. Kalau dukungan anggaran dan kolaborasi dengan berbagai pihak berjalan baik, tentu percepatannya bisa lebih tinggi,” ujar dia.
Secara kontribusi terhadap kebutuhan pangan kota, Buruan Sae diakui masih relatif kecil yakni kurang dari 1 persen. Namun Gin Gin menegaskan, sejak awal program tersebut memang tidak didesain untuk menopang kebutuhan pangan Kota Bandung secara makro.
“Secara makro memang kecil, tapi secara mikro sangat terasa. Buruan Sae mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak terbesar Buruan Sae justru terlihat pada perubahan perilaku masyarakat dalam memandang pangan. Warga menjadi lebih sadar proses produksi, lebih bijak dalam konsumsi dan mampu mengelola sisa pangan serta sampah organik.
“Masyarakat jadi tahu bahwa sisa makanan bisa diolah, sampah organik bisa jadi kompos atau maggot. Ini bagian dari edukasi pangan yang sangat penting di wilayah perkotaan,” ujar dia.
Meski demikian, pelaksanaan Buruan Sae di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan utama adalah menjaga konsistensi warga, mengingat sebagian besar masyarakat perkotaan bukan berlatar belakang petani.
“Kami harus terus melakukan pendampingan dan komunikasi. Kalau tidak, warga bisa bosan dan berhenti di tengah jalan,” tambahnya.
Selain itu, keterbatasan lahan juga menjadi persoalan tersendiri. Banyak kelompok memanfaatkan lahan tidak produktif, namun ketika kawasan berkembang, lahan tersebut kerap dialihfungsikan.
“Inilah tantangan Buruan Sae di kota besar. Karena itu, kami terus mendorong optimalisasi lahan sempit dan inovasi agar program ini tetap berjalan,” tandas dia.
Editor : Ahmad Sayuti


