Tak Setuju Istilah Rudapaksa, Ernest Prakasa Enek dengan Penghalusan Kata Perkosa

Komika Ernest Prakasa angkat bicara terkait penghalusan kata "perkosaan". Dia berpendapat perbuatan biadab itu tak sepatutnya diperhalus.

Tak Setuju Istilah Rudapaksa, Ernest Prakasa Enek dengan Penghalusan Kata Perkosa
Ernest Prakasa angkat bicara terkait penghalusan kata pada istilah "perkosaan".

INILAHKORAN, Bandung - Komika Ernest Prakasa angkat bicara terkait penghalusan kata pada istilah "perkosaan".

Ernest Prakasa berpendapat bahwa perbuatan biadab itu tak sepatutnya diperhalus. Hal itu diungkapkan Ernest di akun Twitternya @ernestprakasa.

Dia mengaku enek dengan penghalusan kata tersebut. Hingga kata perkosa itu dirubah menjadi "rudapaksa" atau "gagahi".

Baca Juga: Cerita Ernest Prakasa Kepincut Fitur di Galaxy S21

Padahal, menurutnya jika ada korban diperkosa semestinya sebut saja perkosa tanpa diperhalus kata tersebut.

Pasalnya, Ernest Prakasa menilai perbuatan biadab seperti perkosa tidak butuh diperhalus.

"Enek banget gue sama kata-kata ganti kayak 'rudapaksa' atau 'gagahi'," kata Ernest Prakasa, dikutip dari akun Twitter @ernestprakasa, Senin, 22 November 2021.

Ernest mengatakan, ketika seseorang menjadi korban perkosaan, maka sebut saja diperkosa, tidak perlu diperhalus.

"Kalau korban diperkosa, ya sebut perkosa. Perbuatan biadab tidak butuh diperhalus!," tutur Ernest.

Baca Juga: Ernest Prakasa Beri Dukungan Moral untuk Bintang Emon

Tak sedikit dukungan atas pernyataan Ernest tersebut, seperti yang diungkapkan oleh akun @ameidala.

"Digagahi sih paling bikin muak. Yang begitu kok bisa-bisanya dibilang gagah," ucapnya.

"ada benernya juga, gagahi seakan jadi keren, terlalu bagus sih.. kata negatif seolah jadi positif. perkosa mah perkosa aja.. kata2 buruk memang tuk hal yg buruk.. budaya denial mendarah daging emang. org luar juga ga bikin judul pake ganti istilah yg udah pasti. rape is rape," tulis @hydiralee di kolom komentar.

Baca Juga: Biadab! Sopir Angkot Tega Perkosa Nenek Tunanetra

Namun tak sedikit juga yang tak sependapat dengan Ernest, seperti akun @adytxax yang mengatakan bahwa redaksi rudapaksa adalah untuk kepentingan korban itu sendiri.

"Kl gw coba pake kacamata keluarga/kerabat korbannya ya ko, kyknya makin terpukul deh tiap denger kata perkosa. Apalagi ortunya. Jadi diperhalus bukan demi si pelakunya, tapi mungkin lebih ke keluarga dan terutama si korban sendiri," ucapnya.

"Mungkin kmu perlu diperkosa dlu jadi baru tau arti kata diperkosa itu...seberapa berat kata itu ketika kamu jadi korban," cuit @orenoomara.***(yosep saepul ramdan)


Editor : inilahkoran