Tangani Kasus Campak, Dinkes KBB Siapkan 57 Ranjang di Sejumlah Rumah Sakit

Dinkes KBB menyiapkan 57 ranjang isolasi untuk menangani kasus campak yang terjadi di wilayahnya. Fasilitas isolasi itu tersebar di beberapa rumah sakit.

Tangani Kasus Campak, Dinkes KBB Siapkan 57 Ranjang di Sejumlah Rumah Sakit
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KBB Enung Masruroh mengungkapkan, pihaknya juga merencanakan pemberian vaksin khusus untuk tenaga kesehatan (nakes) dalam waktu dekat, meskipun hingga saat ini belum terealisasi. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyiapkan 57 ranjang isolasi untuk menangani kasus campak yang terjadi di wilayahnya. 

Fasilitas isolasi tersebar di beberapa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan fasilitas kesehatan lainnya di Kecamatan Cikalong, Cililin, dan Lembang. Termasuk di rumah sakit swasta.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes KBB Enung Masruroh mengungkapkan, pihaknya juga merencanakan pemberian vaksin khusus untuk tenaga kesehatan (nakes) dalam waktu dekat, meskipun hingga saat ini belum terealisasi. 

"Untuk perawatan untuk pasien campak saat ini masih ditanggung BPJS Kesehatan karena kasus belum ditetapkan sebagai KLB (kejadian luar biasa)," kata Enung saat ditemui, Selasa 31 Maret 2026.

Berdasarkan data yang ada, ungkap Enung, sebanyak 287 kasus suspek campak telah tercatat. Sebagian besar berasal dari kelompok yang tidak divaksin atau imunisasi tidak lengkap. 

"223 orang tidak mendapatkan imunisasi campak sama sekali, 8 orang pernah divaksin namun tetap terinfeksi karena kekebalan tidak 100 persen, dan 56 orang tidak memiliki data riwayat imunisasi," jelasnya.

Enung menegaskan, vaksin campak rutin untuk anak-anak usia 9 bulan dan booster pada usia 18 bulan tetap terus digalakkan. Selain itu, pihaknya juga mendorong penyelenggaraan edukasi kepada masyarakat yang masih enggan untuk divaksin.

"Tanda-tanda khas campak meliputi demam, ruam merah yang mulai muncul dari belakang telinga hingga menyebar ke seluruh tubuh, serta konjungtivitis," paparnya.

Virus menyebar melalui udara dan meskipun umumnya dapat sembuh sendiri dengan imunitas yang baik, namun berisiko menyebabkan komplikasi bahkan kematian jika pasien memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti pneumonia.

"Musim tidak menjadi faktor utama penyebaran, namun menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dapat membantu mencegah penularan," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani