Campak dan Difteri Dinilai Lebih Darurat dari Hantavirus, IDAI: Kasus Infeksi Banyak
IDAI sebut campak dan difteri lebih darurat dari wabah hantavirus di Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Saat ini banyak warga Indonesia yang merasa khawatir wabah hantavirus akan masuk ke tanah air.
Di mana kebanyakan warga berpikir hantavirus bisa mematikan dan akan seperti pandemi Covid-19.
Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kasus sejumlah penyakit seperti campak dan difteri saat ini lebih darurat untuk ditangani oleh pemerintah di Indonesia dibanding hantavirus.
"Yang membuat saya prihatin bahwa saat ini rumah kita ini sudah terbakar. Kasus-kasus infeksi di Indonesia ini begitu banyaknya dan kita tidak memiliki sumber daya yang cukup dalam tanda kutip untuk mengatasinya,” jelas Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A., Subsp.IPT., CTH.
Dominicus menyoroti penyakit-penyakit itu belum ditangani secara optimal dan bahkan merebak di wilayah-wilayah tertentu dalam beberapa waktu belakangan ini.
"Sudah sekian belas tahun difteri di kita. campak ini mulai 2-3 tahun yang lalu sampai hari ini belum tuntas juga," tuturnya dikutip dari laman Antara.
Dominicus menilai kasus penyakit seperti campak, difteri, tetanus, pertusis jauh lebih tinggi dibanding hantavirus yang telah ditemukan atau pernah tercatat di Indonesia.
Meski demikian, Guru Besar Bidang Ilmu PD3I Kedokteran Universitas Airlangga itu setuju apabila penularan hantavirus tetap harus diwaspadai dengan langkah pencegahannya bisa dimulai dari menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang mudah dilakukan masyarakat secara lebih efisien dan tidak memerlukan biaya yang mahal.
Dominicus menjelaskan hantavirus merupakan sekelompok virus yang terutama dibawa oleh hewan pengerat (rodents) seperti tikus yang menyebabkan penyakit. Sekalipun jarang, bisa menyebabkan kematian pada manusia.
Manusia biasanya tertular melalui menghirup partikel virus di udara (airbone) dari urine tikus, feses maupun liur terutama di tempat tertutup. Melalui kulit yang terluka, penularan juga dapat terjadi walaupun kasusnya jarang.***
Editor : Irma Nurfajri

