Tanggapi Keluhan Pedagang Ayam Potong, Disdagkoperin Cimahi Berikan Solusi ini

Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi angkat suara terkait kondisi yang tengah dirasakan para pedagang ayam potong di wilayahnya.

Tanggapi Keluhan Pedagang Ayam Potong, Disdagkoperin Cimahi Berikan Solusi ini

INILAHKORAN, Cimahi - Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi angkat suara terkait kondisi yang tengah dirasakan para Pedagang Ayam potong di wilayahnya.

Diketahui, maraknya praktik jual beli Ayam potong dengan harga di bawah pasar membuat para Pedagang Ayam potong yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional (APPETRA) Kota Cimahi meradang.

Pasalnya, hal itu dinilai merugikan pada Pedagang resmi Ayam potong. Bahkan, membuat penjualan mereka merosot drastis dalam sepekan terakhir.

"Kami tetap memantau kondisi pasar. Tapi, tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan atau mengintervensi harga jual di lapangan," kata Kepala Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi, Hella Haerani belum lama ini.

Hella menjelaskan, pihaknya tak bisa melarang lantaran hal itu bagian dari strategi marketing masing-masing pelaku usaha.

Menurutnya, keberadaan toko baru yang menjual ayam dengan harga lebih murah sekitar Rp26 ribu per kilogram dibanding Rp30 ribu di pasar tradisional merupakan bagian dari upaya promosi.

"Toko itu kan baru buka lima hari. Kita tidak bisa melarang mereka berjualan. Itu marketing. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat agar tahu bahwa toko mereka menawarkan harga tertentu," ujarnya.

Hella pun mencontohkan, hal serupa juga kerap terjadi di ritel modern seperti Superindo atau Yogya yang menawarkan berbagai promo menarik.

"Bukan berarti saya membela siapa pun, tapi ini soal bagaimana cara menarik pembeli. Apalagi kalau barang yang dijual lebih bersih, sudah dipilah-pilah seperti kepala, ceker, paha, ya tentu masyarakat akan tertarik," katanya.

Hella menyebut, solusi terbaik adalah komunikasi langsung antar Pedagang. Para Pedagang bisa bermusyawarah untuk menyamakan persepsi dan strategi harga agar tidak saling menjatuhkan.

"Ini bukan soal Pedagang ayam saja. Semua komoditas juga mengalami hal serupa," sebutnya. 

"Gula misalnya, beda seratus perak saja ibu-ibu pasti pindah toko. Jadi Pedagang harus pintar menyenangkan pembeli," ucapnya.

Tak cuma itu, terang Hella, harga ayam dari peternak berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, sehingga meski dijual Rp26.000 hingga Rp30.000, Pedagang masih mendapatkan keuntungan.

"Jadi bukan soal harus diturunkan atau dinaikkan oleh pemerintah. Kuncinya ya komunikasi sesama Pedagang. Jangan saling menjatuhkan," terangnya. *** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti