Target Wisata Kabupaten Cirebon Belum Aman
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Maman Suharman
INILAH, Cirebon- Target kunjungan wisatawan Kabupaten Cirebon pada 2026 masih membutuhkan dorongan kuat.
Hingga akhir Agustus 2026, angka kumulatif terbaru belum terlihat dalam publikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), sedangkan realisasi pada semester pertama baru berada di kisaran 42 persen dari target tahunan.
Disbudpar Kabupaten Cirebon menargetkan jumlah kunjungan wisatawan tahun ini meningkat 10 persen dibandingkan capaian 2025 yang mencapai 1.236.125 kunjungan.
Data dari Disbudpar Kabupaten Cirebon menyebutkan, jika dihitung berdasarkan target pertumbuhan tersebut, jumlah kunjungan yang harus dicapai pada 2026 berada di kisaran 1,36 juta. Dengan capaian semester I sekitar 42 persen. Namun, jumlah kunjungan selama enam bulan pertama diperkirakan baru sekitar 571 ribu.
Artinya, lebih dari 788 ribu kunjungan masih harus dikejar pada semester kedua. Namun, perkembangan capaian selama Juli dan Agustus belum dapat diukur karena angka kumulatif Januari–Agustus belum disampaikan secara terbuka.
Tercatat, pada tahun 2025, kunjungan wisatawan Kabupaten Cirebon tumbuh 12,68 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 1.097.029 kunjungan. Dari total kunjungan 2025, sebanyak 1.222.608 merupakan wisatawan domestik dan 13.517 wisatawan mancanegara.
Pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan sektor pariwisata daerah. Kabupaten Cirebon memiliki 39 destinasi wisata, 24 hotel dan 90 desa wisata yang ditetapkan selama periode 2022–2025. Namun, belum seluruh desa wisata mampu mendatangkan pengunjung secara optimal.
Kondisi itu menjadi tantangan karena penambahan jumlah desa wisata belum otomatis meningkatkan kunjungan maupun memberikan kontribusi besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Disbudpar Kabupaten Cirebon Fajar Sutrisno melalui Fungsional Bidang Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Yoga Barata Ari Wibowo, mengatakan pengembangan desa wisata tidak boleh berhenti pada penetapan administratif.
“Pengelola desa wisata dituntut untuk tidak hanya mengejar status desa wisata, tetapi juga mengembangkan potensi, meningkatkan SDM, serta menghadirkan aktivitas wisata yang atraktif,” kata Yoga, Senin (14/9).
Sementara itu, beberapa warga berpendapat agar Disbudpar menghadirkan program yang konkret dan berkelanjutan untuk menarik wisatawan. Kegiatan pariwisata dinilai tidak cukup hanya mengandalkan potensi alam, budaya dan keberadaan desa wisata tanpa promosi serta agenda yang rutin.
“Kami berharap dinas terkait segera mempunyai program yang jelas untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Potensinya banyak, tetapi harus dipromosikan dan dibuatkan kegiatan yang rutin agar masyarakat luar tertarik datang,” ujarnya Nandi Warga Losari.
Menurut dia, program tersebut juga harus melibatkan pengelola destinasi, pemerintah desa, pelaku UMKM, seniman dan masyarakat setempat. Dengan demikian, meningkatnya kunjungan tidak hanya menguntungkan pengelola tempat wisata, tetapi juga menggerakkan perekonomian warga sekitar.
Editor : Inilahkoran

