TBM Pado Maco, Gerakan Literasi Semangat Membaca
Derasnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca, Warkina, seorang guru SMP di Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, tak pernah berhenti mengajak masyarakat di sekitarnya untuk gemar membaca.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Derasnya arus digitalisasi dan menurunnya minat baca, Warkina, seorang guru SMP di Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, tak pernah berhenti mengajak masyarakat di sekitarnya untuk gemar membaca.
Melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM) bernama Pado Maco yang ia dirikan sejak 2004, semangat literasi ia bawa ke desa-desa, tempat-tempat ramai, hingga menciptakan event sendiri demi memperkenalkan kembali buku kepada masyarakat.
“Kalau dari TBM Pado Maco-nya juga sering melakukan kegiatan event-event, untuk mempublikasikan ekspo buku, pengenalan buku dari tahun ke tahun,” ungkap Warkina, Rabu 23 Juli 2025.
Menurutnya, buku-buku yang tersedia di TBM Pado Maco terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Mulai dari literasi sosial, ekonomi, hukum, politik, religi, sains, hingga finansial. Ragam buku ini disediakan sebagai upaya menyasar beragam kalangan dan minat masyarakat, agar semua orang dapat menemukan bacaan yang sesuai.
Warkina menjelaskan, gerakan literasi ini lahir dari keprihatinannya melihat anak-anak di lingkungannya yang mulai menjauh dari buku.
“Motivasi awalnya karena saya melihat anak-anak mulai berpaling dari membaca buku. Kedua, kita juga ingin memberdayakan pola pikir. Mindset kita terbentuk dari referensi yang valid, bukan dari informasi liar yang tidak jelas. Jadi, kita perlu berpikir berdasarkan rujukan yang kuat,” ungkapnya.
Lebih dari itu, menurut Warkina, budaya membaca juga berdampak pada kesejahteraan masyarakat. literasi bukan sekadar soal membaca, tetapi mampu meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kualitas sumber daya manusia, hingga cara berpikir yang lebih sehat dan maju. “Jadi di situ, mulai akhirnya kita bergiat lebih full,” katanya.
Sejak awal berdirinya TBM lanjutnya, gerakan ini sangat sederhana namun penuh semangat. Di membawa koleksi bukunya sendiri, lalu membuka lapak baca di tempat-tempat ramai. Kini, kegiatannya bahkan bisa berlangsung tiga hingga empat kali seminggu, tergantung kondisi fisik dan operasional.
“Kita keliling mobilisasi ke tempat-tempat ramai. Termasuk juga pasar malam. Kenapa pasar malam, karena banyak orang menganggap membaca harus di tempat hening. Padahal, karakteristik membaca itu berbeda-beda. Ada yang suka baca sambil dengar musik, ada yang perlu tenang, dan ada juga yang suka di keramaian. Ternyata semua bisa dilakukan,” tuturnya.
Tak hanya berpindah-pindah tempat, TBM Pado Maco juga menjalankan berbagai program strategis. Pertama, Gerakan Sadar Baca yang bertujuan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya membaca. Kedua, ada Read Aloud atau buku dibacakan. Ketiga, Gerakan literasi Rakyat yang menyasar kepala keluarga sebagai pusat perubahan. Dan yang tengah dikembangkan saat ini adalah Gerbu membaca.
“Gerbu membaca maksudnya seperti ‘baca geropiokan’. Jadi tidak ada keterpaksaan, tidak ada ketidakenakan. Sasarannya juga tidak harus anak-anak. Semua bisa terlibat,” ucapnya.
Dia memaparkan, Inovasi TBM Pado Maco juga terlihat dari metode uniknya dalam menyelipkan buku di tempat-tempat tak terduga. Misalnya, menitipkan buku di tempat cukur rambut, kios ayam goreng, hingga menyelipkan buku kesehatan di bawah popok bayi saat ada orang yang menjenguk. Bahkan untuk kado pernikahan, ia memilih memberikan buku panduan membina rumah tangga harmonis dibanding sekadar kartu ucapan.
Dia menambahkan, saat ini tim relawan tetap TBM Pado Maco berjumlah sekitar 10 orang, terdiri dari 7 perempuan dan 3 laki-laki. Sementara relawan tidak tetap bisa mencapai 20 hingga 25 orang ketika ada acara atau kegiatan besar.
"Gerakan kecil ini memang dimulai dari satu orang. Namun dampaknya telah menjalar ke banyak hati," tukasnya.***
Editor : JakaPermana

