Terancam Punah, Mang Ujang Laip Ungkap Faktor Penyebab Hilangnya Aksara Sunda

Maestro Aksara Sunda Yudistira Purana Sakyakirti atau akrab disapa Mang Ujang Laip angkat suara tentang sebuah kekhawatiran mendalam di mana aksara daerah yang menjadi bagian dari identitas bangsa kini semakin terpinggirkan.

Terancam Punah, Mang Ujang Laip Ungkap Faktor Penyebab Hilangnya Aksara Sunda
Maestro Aksara Sunda Yudistira Purana Sakyakirti atau akrab disapa Mang Ujang Laip angkat suara tentang sebuah kekhawatiran mendalam di mana aksara daerah yang menjadi bagian dari identitas bangsa kini semakin terpinggirkan.

INILAHKORAN.ID - Maestro aksara sunda Yudistira Purana Sakyakirti atau akrab disapa Mang ujang laip angkat suara tentang sebuah kekhawatiran mendalam di mana aksara daerah yang menjadi bagian dari identitas bangsa kini semakin terpinggirkan.

"Kini semakin langka orang Sunda yang mampu membaca dan menulis aksara sunda. Itulah sebabnya kita harus bergerak cepat untuk menyelamatkannya," kata Mang ujang laip.

Menurut Mang ujang laip, sejumlah faktor menjadi penyebab perlambatan perkembangan bahkan kemunduran aksara daerah, seperti minat yang rendah.

"Banyak masyarakat dan generasi muda menganggap aksara daerah tidak efektif sebagai sarana untuk mencari nafkah, sehingga kurang tertarik untuk mempelajarinya," tuturnya.

Kemudian, kurangnya wadah lantaran Kota Cimahi masih kekurangan lembaga budaya atau komunitas yang fokus membangun minat keaksaraan daerah, padahal amanat UUD 1945 mengamanatkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui warisan budaya.

"Bahasa daerah yang menjadi isi dari aksara kuno semakin jarang digunakan, membuat simbol aksara tersebut terasa tidak relevan dengan perkembangan zaman," ujarnya.

Selain itu, sistem aksara dari kebudayaan baru yang dianggap lebih efektif dalam berkomunikasi telah mendominasi, menjauhkan masyarakat dari aksara dan bahasa Sunda yang merupakan bagian dari akar budaya mereka.

"Meskipun kini jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, aksara kuno Sunda masih dapat ditemukan dalam kesempatan khusus seperti acara adat atau peninggalan bersejarah, menjadi bukti bahwa jejak budaya tersebut belum sepenuhnya hilang," bebernya. ***


Editor : JakaPermana