Terapi Bayi Viral Ternyata Gunakan Alat Kerokan Kayu, Warganet: Dewasa Saja Sakit!
kini warganet membongkar detail alat yang digunakan oleh sang terapis.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gelombang kecaman terhadap praktik terapi bayi yang viral di media sosial semakin memanas.
Setelah sebelumnya menyoroti tangisan histeris sang bayi, kini warganet membongkar detail alat yang digunakan oleh sang terapis.
Bukan sekadar pijatan tangan atau daun sirih, sang terapis diduga menggunakan alat kerokan kayu yang runcing.
Temuan ini diungkap oleh akun Threads bunabanna yang melakukan observasi mendalam terhadap video-video dokumentasi pengobatan tersebut. Unggahan ini langsung memicu kengerian massal di kalangan orang tua dan praktisi kesehatan.
Detail Alat yang Digunakan Disorot Tajam
Berdasarkan tangkapan layar yang dibagikan, wanita yang melakukan terapi tersebut terlihat menggenggam daun yang dibungkus, namun di sela-selanya terselip sebuah alat kayu berwarna cokelat dengan ujung yang cukup tajam.
"Dan kalian tau bukan cuma pake tangan. Itu yang dia genggam daun dan alat kerokan kayu. Sekali lagi 'KEROKAN KAYU'. Kita yang dewasa aja kalau pake alat ini tuh sakit loh. Ini anak kecil dipukul-pukul bagian yang runcing pula," tulis akun bunabanna dengan nada geram.
Alat tersebut biasanya digunakan untuk teknik pijat refleksi atau kerokan pada orang dewasa, yang jika diaplikasikan pada kulit bayi yang sangat tipis dan sensitif, berisiko tinggi menyebabkan memar hingga cedera jaringan dalam.
Selain fokus pada alat, warganet juga mulai menelusuri latar belakang sang terapis.
Muncul komentar pedas terkait gaya hidup dan penampilan asli sang terapis yang dianggap kontras dengan narasi "pengobatan atas izin Allah" yang kerap digaungkan di media sosial.
"Pakaian aslinya seperti ini, kok bisa orang-orang percaya bahwa bisa mengobati atas izin Allah," komentar salah satu netizen sembari melampirkan foto pribadi sang terapis.
Hal ini memperkuat dugaan publik bahwa praktik tersebut hanyalah eksploitasi anak demi konten atau keuntungan pribadi dengan memanfaatkan sentimen agama.
Editor : Firda Rachmawati

