Pemilik Terapi Bayi Viral yang Dikecam Buka Suara: Power of Du'a
wanita di balik praktik pengobatan tersebut memberikan pesan mendalam usai terapinya itu dikecam.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Setelah menuai kritik tajam dan sorotan dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pihak penyedia terapi bayi yang viral akhirnya buka suara.
Melalui unggahan di media sosial resminya, wanita di balik praktik pengobatan tersebut memberikan pesan mendalam terkait pro dan kontra yang terjadi.
Pernyataan ini muncul menyusul gelombang kecaman warganet yang menilai metode terapinya terlalu ekstrem hingga dianggap sebagai bentuk eksploitasi dan kekerasan terhadap anak.
Minta Warganet Tak Menghujat Tanpa Merasakan Perjuangan
Dalam unggahan berjudul "Power Of Du’a", akun @ferizka_prihendra meminta masyarakat untuk lebih berempati sebelum melontarkan hujatan. Ia menekankan bahwa apa yang terlihat di video merupakan bagian dari ikhtiar atau usaha demi kesembuhan pasien.
"Jangan pernah menghujat tanpa merasakan apa yang mereka rasakan. Sudahkah Anda menjadi mereka? Menangis mengaduh mengeluh berjuang untuk suatu kesembuhan," tulisnya dalam keterangan foto tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa segala kritik atau kata-kata yang menyakitkan terhadap niat tulus seseorang akan memiliki konsekuensi "sebab akibat" di masa depan.
Sebut Hasil Melampaui Logika
Merespons keraguan publik terkait standar medis dan logika kesehatan, pihak penyedia terapi ini meyakini bahwa kesembuhan adalah hasil dari kerja hati dan ridho Tuhan. Ia menegaskan bahwa praktik yang dilakukannya didasari oleh ketulusan untuk membantu sesama.
"Semua bisa terjadi tanpa memandang logika. Yakin dan sabar adalah penyembuh segala penyakit," lanjutnya. Pernyataan ini seolah menjadi jawaban atas kritik para ahli medis yang mempertanyakan keamanan prosedur tersebut secara klinis.
Meski tengah menjadi sasaran kritik pedas, wanita tersebut menyatakan akan tetap fokus membantu para "pasien setia" yang membutuhkannya. Ia menutup pernyataannya dengan ungkapan terima kasih kepada mereka yang tetap percaya pada metodenya selama ini.
"Kuatkan diri ini untuk selalu membantu sesama yang membutuhkan. Terima kasih pasien setia," tutupnya.
Pernyataan "kekuatan doa" dan "di luar logika" ini justru memicu perdebatan baru di kalangan netizen. Sebagian besar masih menuntut adanya pembuktian medis yang sah, mengingat subjek terapinya adalah bayi yang memiliki struktur fisik sangat rentan.
Sebelumnya, Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, telah menyatakan akan melakukan advokasi melalui IDAI Sumsel untuk memastikan keselamatan anak dari potensi kekerasan fisik dalam praktik-praktik pengobatan alternatif serupa.
Editor : Firda Rachmawati

