Terhimpit Lingkungan Tak Aman dan Minim Siswa, SLB Karya Bhakti Berjuang Bertahan

SLB Karya Bhakti menghadapi persoalan yang mengancam keberlangsungan sekolah. Mulai dari siswa yang masih terbatas hingga kondisi lingkungan yang tak mendukung.

Terhimpit Lingkungan Tak Aman dan Minim Siswa, SLB Karya Bhakti Berjuang Bertahan
Ketua Yayasan Pendidikan Karya Bhakti sekaligus SLB Karya Bhakti Ummi Latifah mengatakan, kondisi lingkungan menjadi salah satu alasan pihaknya mempertimbangkan mencari lokasi baru. Keamanan dan kenyamanan anak-anak, menjadi pertimbangan utama dalam proses pendidikan. (yogo triastopo)

INILAHKORAN.ID - SLB Karya Bhakti menghadapi sejumlah persoalan yang mengancam keberlangsungan sekolah. Selain jumlah siswa yang masih terbatas, sekolah bagi anak berkebutuhan khusus itu juga harus menghadapi kondisi lingkungan yang dinilai kurang mendukung dan bangunan yang mulai mengalami kerusakan.

Ketua Yayasan Pendidikan Karya Bhakti sekaligus SLB Karya Bhakti Ummi Latifah mengatakan, kondisi lingkungan menjadi salah satu alasan pihaknya mempertimbangkan mencari lokasi baru. Keamanan dan kenyamanan anak-anak, menjadi pertimbangan utama dalam proses pendidikan.

“Yang menjadi perhatian utama adalah masalah keamanan. Sulit juga kalau kita berhubungan dengan lingkungan yang tidak sehat untuk dunia pendidikan. Di sekitar sini ada yang setiap hari mabuk dan ada intimidasi, walaupun masih bisa kami atasi,” kata Ummi Latifah, Selasa (28/7/2026).

Dia menjelaskan, persoalan lingkungan tersebut turut memengaruhi minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SLB Karya Bhakti. Beberapa calon siswa yang berminat, disebut akhirnya mengurungkan niat karena khawatir dengan kondisi sekitar sekolah.

“Banyak yang daftar ke sini, tetapi mereka takut daftar ke sini karena kondisi lingkungan,” ucapnya.

Selain faktor keamanan, kondisi fisik bangunan sekolah juga menjadi kekhawatiran. Beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan, dan dinilai berisiko terhadap keselamatan siswa maupun tenaga pendidik.

“Dinding atas sudah rusak dan bisa ambruk. Sudah lapuk, terutama bagian menuju dapur. Kalau hujan terus-menerus, saya khawatir bisa ambruk. Itu juga jadi pertimbangan saya, karena menyangkut keamanan anak-anak,” ucapnya.

Menurutnya, saat musim hujan. Sekolah juga kerap menghadapi persoalan banjir dan kebocoran. Kondisi tersebut, membuat kegiatan belajar mengajar tidak selalu berjalan optimal. “Kalau hujan, banjir dan bocor semua. Saat musim kemarau memang aman, tetapi ketika hujan masalahnya muncul,” ujar dia.

Di tengah berbagai kendala tersebut, SLB Karya Bhakti juga menghadapi tantangan dari sisi jumlah peserta didik. Ummi mengatakan, jumlah siswa menjadi salah satu faktor penting agar sekolah tetap dapat bertahan dan memperoleh dukungan pendanaan pemerintah.

“Kalau siswa sedikit, berdasarkan aturan pemerintah sekolah bisa ditutup dan tidak mendapatkan dana BOS,” jelasnya.

Dia menyebut, jumlah siswa sekitar 10 orang sudah dapat menjadi batas yang mengkhawatirkan bagi keberlangsungan sekolah. Namun, saat ini SLB Karya Bhakti masih memiliki siswa lebih dari jumlah tersebut sehingga kegiatan pendidikan tetap berjalan.

“Sekarang masih lebih dari 10 siswa. Karena hubungan kami dengan dinas juga baik, masih bisa berjalan dan kami terus berusaha menambah siswa,” ujar dia.

Selain menghadapi persoalan internal, sekolah juga pernah mengalami intimidasi dari pihak luar. Ummi mengungkapkan, sebelumnya ketua yayasan pernah mendapat ancaman menggunakan senjata tajam.

“Kalau cerita dulu, ketua yayasan yang sebelumnya sampai diancam pakai golok. Kalau saya lebih memilih mengajak ngobrol baik-baik,” jelasnya.

Menurutnya, bentuk gangguan lain yang pernah terjadi adalah adanya orang luar yang masuk ke area sekolah tanpa izin hingga meminta sejumlah uang. Situasi tersebut, biasanya muncul ketika ada kegiatan besar atau kunjungan pejabat.

“Kalau ada acara, apalagi kalau tahu ada pejabat mulai bikin ulah. Seperti kemarin ketika ada kunjungan pak dirjen, saya sudah bersihkan semuanya, tetapi saat itu mulai berulah lagi,” ungkap dia.

Meski menghadapi banyak tekanan, SLB Karya Bhakti tetap berupaya memberikan ruang belajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Bahkan, pihak yayasan berencana membuat rumah belajar bagi anak-anak di sekitar lingkungan sekolah.

“Kita bikin rumah belajar bulan depan, karena ada anak-anak yang belum bisa membaca dan ada yang tidak naik kelas. Keberadaan yayasan juga harus menyatu dengan lingkungan,” ucapnya.

Dia berharap, keberadaan sekolah tidak hanya menjadi tempat pendidikan bagi siswa SLB. Namun juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Dalam proses pembelajaran, kegiatan belajar mengajar berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga 11.00 WIB. Namun, beberapa siswa terkadang memilih bertahan lebih lama di sekolah karena merasa nyaman berada di lingkungan tersebut.

“Anak-anak kadang pulangnya jam 14.00 WIB karena tidak mau pulang. Mungkin karena kondisi rumah mereka, di sini mereka bisa bermain, berlari-lari dan bertemu teman-temannya,” ujar dia.

Selain kegiatan belajar, sekolah juga mengembangkan kreativitas siswa melalui berbagai karya. Salah satunya produk tumbler hasil karya anak-anak. “Tumbler ini karya Naufal. Saat saya masuk, dia sudah mulai berkarya,” ucapnya.

Guna mendukung proses pendidikan, SLB Karya Bhakti masih membutuhkan berbagai peralatan pendukung. Terutama alat terapi bagi siswa berkebutuhan khusus.

“Yang paling penting alat terapi, seperti terapi seni dan terapi visual. Di sini ada anak tunarungu dan tunawicara, jadi alat-alat belajar seperti itu masih kurang,” tutur dia.

Di tengah keterbatasan fasilitas, ancaman penutupan dan kondisi lingkungan yang belum ideal. SLB Karya Bhakti terus berupaya bertahan, agar anak-anak berkebutuhan khusus tetap memiliki tempat belajar dan berkembang.


Editor : Doni Ramdhani