Terlalu Mahal, Tarif Masuk Kawasan Tajug Gede Cilodong Dipertanyakan

Tajug Gede Cilodong, di Kecamatan Bungursari, saat ini menjadi lokasi wisata religi baru di Kabupaten Purwakarta. Masjid besar yang berdiri di lahan seluas 10 hektare itu, mungkin menjadi kawasan yang paripurna. Karena, selain sarana khusus peribadahan, di lokasi ini pengunjung juga bisa sekaligus berwisata.

Terlalu Mahal, Tarif Masuk Kawasan Tajug Gede Cilodong Dipertanyakan
Ilustrasi/Net

INILAH, Purwakarta – Tajug Gede Cilodong, di Kecamatan Bungursari, saat ini menjadi lokasi wisata religi baru di Kabupaten Purwakarta. Masjid besar yang berdiri di lahan seluas 10 hektare itu, mungkin menjadi kawasan yang paripurna. Karena, selain sarana khusus peribadahan, di lokasi ini pengunjung juga bisa sekaligus berwisata.

Di kawasan ini terdapat banyak fasilitas rekreasi. Misalnya taman indah, dan yang terbaru ada Air Mancur menari. Memang, dalam penataan kawasan Tajug Gede Cilodong tidak saja difokuskan pada fungsi tempat peribadahan besar. Tapi, didorong juga terhadap nilai konservasi, edukasi, budaya, pertanian hingga rekreasi.

Awal tahun kemarin, penataan kawasan tersebut dianggap telah selesai setelah diresmikannya fasilitas air mancur menari di lokasi itu. Tak heran, sejak diresmikan, pengunjung pun membludak. Nyaris setiap waktunya kawasan tersebut disesaki pengunjung yang hendak beribadah sembari berwisata.

Sayangnya, banyak di antara pengunjung mengeluhkan tarif parkir kendaraan di kawasan tersebut. Mereka menilai, tarifnya terlalu mahal. Keluhan itu bukan hanya secara langsung, tapi bersebaran juga di kalangan warganet di media sosial.

Menanggapi keluhan tersebut, Sekretaris Dewan Kemakmuran Mesjid (DKM), Purwanto berdalih, tarif tersebut diberlakukan untuk membiayai operasional pengelola kawasan ini. dalam hal ini, pihaknya meminta pengunjung meniatkan itu sebagai infaq.

“Kami di sini tidak menyediakan kotak amal. Jadi, tiket parkir ini niatkan saja sebagai infak,” ujar Purwanto kepada wartawan, Kamis (9/1/2020).

Pihaknya pun mengakui, tarifnya masuk ke kawasan ini memang lebih mahal dibandingkan di tempat parkir lain atau parkir liar. Untuk kendaraan roda dua atau sepeda motor dikenakan biaya parkir sebesar Rp5000. Sedangkan, kendaraan roda empat atau mobil pribadi Rp20.000. Kemudian, tarif untuk bus atau angkutan massal sejenisnya mencapai Rp100.000.

“Kalau mau gratis masuk ke sini jangan bawa kendaraan pribadi. Pakai kendaraan umum itu lebih baik,” saran Purwanto.

Sementara itu, Ketua DKM Tajug Gede Cilodong, Dedi Mulyadi menjelaskan, kebutuhan biaya untuk operasional pengelola mesjid tersebut lumayan cukup besar. Dimulai dari upah pekerja berjumlah 14 orang hingga biaya perawatan mesjid seperti mengganti lampu dan membayar tagihan listrik.

“Pompa air yang kita sediakan empat unit sudah tidak cukup. Jadinya kita harus bikin sumur baru dan pasang pompa baru. Mengganti lampu saja setiap bulan hampir Rp40 juta baik di dalam dan luar,” kata dia.

Dia menjelaskan, sejak awal pembangunannya pendapatan sumbangan dari masyarakat umum cukup minim. Menurutnya, sebagian besar sumbangan untuk penataan kawasan tersebut diperoleh dari teman-teman dekatnya sesama politisi. Bahkan, sekitar Rp4,5 miliar di luar sumbangan itu berupa barang. (Asep Mulyana)


Editor : Bsafaat