INILAHKORAN, Ngamprah – Tim Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) dari Polres Cimahi diterjunkan untuk menyelidiki kasus keracunan massal yang menimpa puluhan siswa SMP Negeri 1 Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Mereka mengambil sampel sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab keracunan tersebut.
Di lokasi, petugas Inafis memeriksa ompreng (wadah makanan) MBG yang tersisa dan tertata rapi di depan salah satu kelas SMPN 1 Cisarua. Salah seorang petugas bahkan terlihat mengendus satu per satu makanan yang tersisa, mulai dari lauk ayam, potongan buah melon, hingga nasi.
Setelah mengendus, sisa-sisa makanan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk dibawa ke laboratorium.
Diberitakan sebelumnya, puluhan siswa SMPN 1 Cisarua mengalami gejala keracunan seperti mual, pusing, dan muntah-muntah setelah menyantap MBG yang disajikan pada hari yang sama. Kejadian ini sontak membuat panik pihak sekolah dan para siswa.
Guru SMPN 1 Cisarua, M Fakhmi Nurdiansyah menyebut, jumlah siswa yang mengalami keracunan diperkirakan kurang dari 100 orang. "Sebagian besar sehat, bahkan ada yang makan dengan habis juga, tidak ada gejala apapun," ujarnya.
Fakhmi menjelaskan bahwa pada hari itu, sebanyak 1.300 paket MBG dibagikan kepada siswa SMPN 1 Cisarua. Menu yang disajikan terdiri dari satu porsi nasi, sepotong daging ayam, sayuran, dan sepotong buah melon.
"Siswa yang memiliki gejala dari awal sudah langsung diberi penetralisir, diberikan air kelapa dari pihak MBG sama guru, sehingga tidak terlalu bergejala yang fatal," ungkapnya.
Fakhmi menuturkan, para siswa mulai mengonsumsi MBG sekitar pukul 09.30 WIB. Tidak lama setelah itu, beberapa siswa mulai mengeluhkan mual dan pusing.
Menurutnya, penanganan awal dilakukan di beberapa kelas dan aula sekolah untuk menampung siswa yang mengalami gejala keracunan.
"Penyelidikan oleh
Tim inafis ini diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti keracunan dan memberikan titik terang dalam kasus ini," pungkasnya. ***