Anaknya jadi Korban Keracunan Massal, Orang Tua di KBB Minta MBG Diganti dengan Uang Tunai
Insiden keracunan massal ratusan siswa usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas yang terjadi selama dua hari menuai kekecewaan para orang tua korban.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Insiden keracunan massal ratusan siswa usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas yang terjadi selama dua hari menuai kekecewaan para orang tua korban.
Tak sedikit dari mereka yang menolak dilanjutkannya program MBG usai melihat anak-anaknya merasakan berbagai gejala keracunan.
Namun, tak sedikit pula mereka yang menyarankan agar menu MBG diganti dengan uang tunai dan diberikan langsung kepada orang tua mengingat mereka lebih mengetahui kebutuhan anak-anaknya.
Rosid (49) salah satunya, warga Kampung Bebedahan, Desa Neglasari, Kecamatan Cipongkor ini menolak anaknya diberikan lagi menu MBG usai menjadi salah satu korban keracunan massal di SDN Cipongkor pada Rabu 24 September 2025.
"Menu MBGnya diganti dengan uang, kalau dengan menu makanan lagi saya enggak mau," kata Rosid saat tengah menunggu anaknya dirawat, Kamis 25 September 2025.
Bukan tanpa alasan Rosid menyarankan menu MBG diganti dengan uang tunai. Sebab, menurutnya orang tua lebih mengetahui makanan yang dibutuhkan anak-anaknya.
"Dulu sebelum ada MBG enggak ada anak-anak yang keracunan sampai sebanyak ini di Cipongkor, bahkan di Bandung Barat," bebernya.
Rosid mengaku mendapatkan kabar anaknya menjadi korban keracunan massal di sekolahnya sekitar pukul 11.00 WIB.
"Jadi denger kabar anak keracunan itu jam 11 siang. Saya ke sekolah dan langsung bawa anak ke rumah sakit," ujarnya.
Zamzam Mubarok (9) mengaku merasakan pusing usai menyantap hidangan menu MBG, seperti nasi, tahu, ayam dan strawberi.
"Cuma pusing, mual dan muntah enggak," ujar siswa yang masih duduk di kelas 3 SDN 1 Cipongkor ini.
Tak cuma Rosid, keluhan pelaksanaan MBG juga diungkapkan Ningsih (54), orang tua Muhammad Agung, Siswa Kelas XI SMK Karya Perjuangan Cipongkor yang menjadi korban keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) hanya bisa pasrah melihat anak kesayangannya di bangsal rumah sakit.
Muhammad Agung, merupakan satu dari 47 pasien yang masih harus mendapat perawatan intensif di RSUD Cililin usai menjadi korban keracunan massal MBG bersama ratusan siswa pada Rabu 24 September 2025.
Warga Kampung Ciakar, Desa Sarinagen ini dengan tegas meminta program Makan Bergizi Gratis atau MBG ini dihentikan agar tidak kembali terulang.
"Atos tos dilanjut (program MBG) daripada kajadian deui (Sudah jangan dilanjutkan daripada terjadi lagi)," kata Ningsih dengan nada kecewa.
Ningsih mengaku syok lantaran saat gejala keracunan terjadi anaknya sempat mengalami kejang-kejang hingga tak sadarkan diri.
"Kantos kejang-kejang teras pingsan (Sempat kejang-kejang terus pingsan)," ucapnya.
Editor : Doni Ramdhani

