Tinjau IPA Rancamaya, Komisi III DPRD Kota Bogor Pastikan Pasokan Air Bersih Optimal

Tinjau IPA Rancamaya, Komisi III DPRD Kota Bogor Pastikan Pasokan Air Bersih Optimal
Jajaran Komisi III DPRD Kota Bogor saat mengunjungi IPA Rancamaya milik Perumda Tirta Pakuan, Rabu (8/7/2026). (rizki mauludi)

INILAHKORAN.ID - Komisi III DPRD Kota Bogor menyambangi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Rancamaya milik Perumda Tirta Pakuan di Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Rabu (8/7/2026). 

​Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor Ahmad Aswandi memaparkan, peninjauan langsung itu bertujuan untuk menjamin masyarakat terhadap akses air bersih tidak mengalami gangguan. Dari hasil peninjauan, pihaknya mencatat masih ada sejumlah tantangan besar yang harus segera diselesaikan Perumda Tirta Pakuan.

"Kami memastikan kebutuhan air di masyarakat tidak terganggu. Ternyata Tirta Pakuan sendiri masih banyak PR-nya terkait masyarakat yang masih membutuhkan air bersih, terutama di Kecamatan Tanah Sareal dan Bogor Barat," kata Ahmad. 

Sedangkan, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bogor Abdul Rosyid mengapresiasi implementasi teknologi canggih yang diterapkan dalam pengolahan air baku di Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Rancamaya. Dirinya menyaksikan langsung bagaimana air baku yang bersumber dari sungai diproses secara higienis hingga siap konsumsi.

​"Namun, meskipun pasokan debit air bersih di fasilitas ini tergolong melimpah, kami menyayangkan masih adanya beberapa kawasan di Kota Bogor yang belum teraliri air secara maksimal akibat minimnya fasilitas penunjang," tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor Rino Indira memaparkan secara rinci mengenai tantangan teknis serta rencana strategis perusahaan dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Saat ini sekitar 90 persen sumber air baku Kota Bogor masih bertumpu di wilayah Selatan, seperti di Kecamatan Cijeruk dan Tangkil.

"Fasilitas utama di wilayah tersebut adalah Water Treatment Plant (WTP) atau IPA Rancamaya yang dibangun pada periode 2015-2016 dengan kapasitas produksi mencapai 30 liter per detik. Ditambah pasokan dari Mata Air Tangkil sebesar 110 liter per detik yang dialirkan melalui reservoir setempat, total kapasitas distribusi untuk zona 1 berada di angka 140 liter perdetik," tuturnya.

Rino menjelaskan, tetapi secara perhitungan teknis, kapasitas 140 liter perdetik tersebut idealnya hanya mampu melayani sekitar 14.000 pelanggan. Kondisi riil di lapangan menunjukkan jumlah pelanggan eksisting Zona 1 saat ini telah membengkak hingga mencapai angka 17.000 sampai 18.000 pelanggan.

"Kami mengalami kekurangan pasokan sekitar 30 liter per detik di zona 1. Selama tiga tahun terakhir, defisit ini kami tutupi dengan menyewa WTP milik Unitex," jelas Rino. 

Rino menegaskan, situasi kritis diprediksi akan terjadi mengingat masa sewa WTP Unitex akan segera berakhir pada September 2026 mendatang karena aset tersebut hendak dijual oleh pemiliknya. Jika infrastruktur pengganti tidak segera beroperasi, potensi defisit pasokan di zona 1 terancam menjadi kendala serius.

​"Manajemen Perumda Tirta Pakuan sebenarnya telah merencanakan penambahan kapasitas hingga 200 lps di wilayah Selatan sejak tiga tahun lalu. Namun, realisasi proyek strategis tersebut terbentur masalah pendanaan. Melalui Raperda Penyertaan Modal Pemerintah (PMP), dari total kebutuhan investasi sebesar Rp134 miliar, dana yang baru terealisasi hanya sebesar Rp15 miar," tuturnya. 


Editor : Doni Ramdhani