Transisi PJJ menuju PTMT, apakabar mereka yang di desa?
Pembelajaran Jarak Jauh sampai saat ini masih terus dilakukan guna membantu terjaganya keberlangsungan Kegiatan Belajar Mengajar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung-Pembelajaran Jarak Jauh sampai saat ini masih terus dilakukan guna membantu terjaganya keberlangsungan Kegiatan Belajar Mengajar. Perubahan secara signifikan terlihat dari wajah Pendidikan Indonesia, mulai dari sistem belajar mengajar, seleksi masuk, bahkan wisuda yang dilaksanakan secara daring seiring dengan penyebaran virus yang masih bergulir.
Baru-baru ini, PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) Diluncurkan selaras dengan menurunnya penyebaran virus pandemic di berbagai daerah Indonesia.Adanya PTMT yang digagas oleh pemerintah diharapkan dapat menumbuhkan kembali empati dan rasa sosial siswa, mengingat minimnya interaksi sosial antara siswa belakangan ini akibat diadakannya PJJ.
Namun jika menilas balik dengan apa yang terjadi hingga kini, apa dampak yang timbul bagi siswa?. Dilaksanakannya PJJ membuat interaksi siswa dengan lingkungan sosialnya menjadi minim. Dilansir RepublikaNetizen, Belajar di rumah tanpa bertemu dengan teman sekelas dan para guru akan berpotensi meningkatkan egoisme anak.
Baca Juga: Disdik Kota Bogor rencana uji coba PTM SD pada pekan ketiga Oktober
Secara psikologis anak akan berupaya mementingkan diri sendiri dan secara tidak langsung rasa simpati dan empati anak perlahan pudar. Karena PJJ belum mampu menggantikan lingkungan sekolah dalam menempa anak dalam mengasah, mengasuh, dan mengasih sebagai rantai penggerak sosial dan kebudayaan yang berkarakter.
Adanya perpindahan yang signifikan dari berbagai segi yang ada di dalam sektor Pendidikan membuat Pendidikan Indonesia masih jauh dari kata berkembangnya. Selain kebutuhan edukasi materi, sebenarnya apa saja yang dibutuhkan siswa sekolah saat ini?.
Kebutuhan akan interaksi sosial baik secara asosiatif maupun disosiatif menjadi masalah lain yang muncul dengan kondisi pembelajaran saat ini. Lagi, kita bisa menyoroti minimnya interaksi sosial akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar ditambah lagi Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang diadakan guna meminimalisir penyebaran virus yang ada.
Baca Juga: DPRD Jabar Sebut Vaksinasi Sebagai Penunjang Terselenggaranya PTM
Tak hanya di perkotaan, mereka yang berada di daerah pun mengalami masa transisi Kegiatan Belajar Mengajar. Mengambil sudut pandang Pemuda Peduli, Di masa transisi dari PJJ menuju PTMT belakangan ini, Kegiatan Belajar Mengajar di Desa yang sempat lumpuh akibat Pembatasan Sosial yang dilakukan perlahan mulai berjalan.
Pengajaran yang dilakukan selama 2 minggu 1 kali dengan mendatangkan relawan pengajar yang akan membagikan materi berupa literasi bahasa, matematika dan sains di ketiga desa binaan Pemuda Peduli yang terletak di 2 wilayah Jawa Barat yaitu Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang.
Ika Indah Wahyuni, selaku Ketua Divisi Pendidikan Bina Desa mengungkapkan tujuan diadakannya pengajaran ialah kemajuan dari segi pendidikan harus sampai ke pelosok meski pandemi virus masih bergulir dan juga demi memenuhi kebutuhan interaksi sosial, maka pembelajaran dilakukan secara offline.
Baca Juga: Siap Laksanakan PTM Terbatas, 98 Persen Siswa-siswi SMAN 15 Bandung Sudah Divaksin
“Simple nya, kita ingin berbagi ilmu yang dipunya, Meskipun itu ga seberapa tapi setidaknya kita masih punya tenaga untuk membantu mereka belajar dan juga kita punya pengalaman untuk dibagi dengan mereka. Sharing dalam artian mengajarkan dan membimbing anak anak disana tentunya ke hal yang baik dan juga ga lupa kita juga belajar dari mereka. Terlebih lagi di situasi yang seperti sekarang” Tuturnya. Pembelajaran yang dilakukan selain materi, ada juga praktik sains sederhana yang dilakukan diantaranya percobaan gunung meletus dan membuat origami dari kertas lipat.
Dokumentasi Anak-anak Desa Cicangkang Hilir, salah satu dari tiga desa binaan Pemuda Peduli tengah membuat origami sederhana dari kertas lipat bersama para relawan dari Program Bina Desa Pemuda Peduli (30/11/2019).
Minimnya fasilitas yang tersedia menjadi permasalahan kedua dengan diadakannya pelaksanaan PTMT, tak memantaskan Ia juga berharap bahwa pengajaran yang dilakukan bisa terus mengobarkan semangat mengejar pendidikan bagi anak-anak desa.
Baca Juga: Penusukan Siswa di Bogor, Kadisdik Jabar: Bukan PTM yang Jadi Akar Masalahnya!
“Menularkan semangat untuk belajar meskipun di depan sana akan banyak rintangan dan cobaan baik itu dari masalah ekonomi dan fasilitasnya. Semoga dengan ilmu yang diberikan di tiap-tiap pengajaran yang dilakukan dapat bermanfaat bagi mereka” Pungkasnya.***
Editor : inilahkoran

