Trik Ridwan Kamil Bikin Orang Melek Literasi
Membaca adalah jendela dunia. Siapa yang mau membaca, maka jendela pengetahuan akan terbuka. Siapa yang rajin membaca sejak masih muda, peluang sukses di masa depan pun akan menjadi nyata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Membaca adalah jendela dunia. Siapa yang mau membaca, maka jendela pengetahuan akan terbuka. Siapa yang rajin membaca sejak masih muda, peluang sukses di masa depan pun akan menjadi nyata.
Hal ini mengilhami Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk menularkan virus literasi kepada dua anaknya. Dia sengaja mencetak dan mempersiapkan anaknya agar jadi pribadi yang gemar membaca buku.
Salah satu cara yang ditempuh adalah tak ada batasan anggaran dari dompetnya untuk membeli buku. Seberapa banyak pun buku yang ingin dibeli anak-anaknya, pria yang akrab disapa Emil itu pasti memberikannya dengan senang hati.
"Kalau saya ada anggaran buku (untuk anak). Setiap beli buku, tidak saya batasi anggarannya," kata Emil belum lama ini di Gedung Sate, Kota Bandung.
Kemudahan itu dimanfaatkan dengan baik oleh sang anak. Sehingga, mereka punya kegemaran membaca buku dan punya banyak koleksi buku. Hal itu diyakini Emil akan sangat bermanfaat untuk kehidupan dan prestasi anak-anaknya.
Sebelum anaknya gemar membaca buku, Emil dan sang istri, Atalia Praratya, sudah 'meracuni' mereka sejak kecil. 'Racun' yang ditularkan pun disampaikan dengan cara halus.
Salah satu yang dilakukan adalah sering membaca buku di dekat anak-anaknya. Istilah anak adalah peniru ulung orangtuanya pun terbukti. Kegemaran membaca buku itu akhirnya menular pada anak-anak. Hasilnya, membaca jadi kegemaran seluruh anggota keluarga Emil.
"Jadi, di keluarga kami memang senang membaca, senang bermain (bersama)," ungkap Emil.
Tapi, diakuinya ada tantangan tersendiri di era digital saat ini. Gawai sulit dilepaskan dari kehidupan, termasuk anak-anaknya. Apalagi, gawai memang jauh lebih menarik dari membaca buku. "Tantangannya gitu ya, godaan terhadap gadget memang luar biasa," ucapnya.
Dia pun memiliki siasat agar gawai tak merampas kehidupan anak-anaknya, termasuk kegemaran membaca yang sudah terbangun. Caranya, dia menerapkan jam khusus antigawai di rumah setiap hari, tepatnya dari pukul 18.00-21.00 WIB. Saat itu biasanya dijadikan momentum bagi Emil dan keluarganya berkumpul.
Mereka bisa bercengkrama, berbincang, bermain, atau belajar. Bahkan, Emil seringkali membantu anaknya menuntaskan tugas sekolah alias pekerjaan rumah (PR).
Di luar itu, dia juga selalu berusaha memanfaatkan waktu senggang di akhir pekan untuk berlibur atau bermain. Kualitas kebersamaan pun sangat dijaga. Sehingga, anak-anaknya merasa orangtuanya hadir untuk mereka, bukan melulu mengurusi rakyat Jawa Barat tapi melupakan kebahagiaan keluarga.
"Saya selalu nasihati (anak), hidup yang baik adalah hidup yang seimbang. Seperti (minggu) kemarin saya bermain, jalan kaki dari Tahura (Taman Hutan Raya) ke Maribaya sama keluarga, tanpa gadget juga," tutur Emil.
Manfaatkan Jabatan untuk Menyebar 'Virus'
Membaca terbukti mampu membuat Emil jadi orang besar. Dari kegemarannya membaca buku, dia mendapat beragam pengetahuan, pemahaman, serta pondasi untuk menentukan arah hidupnya.
Hasilnya, dia bisa sukses seperti sekarang. Jauh sebelum menjadi orang nomor satu di Jawa Barat, dia dikenal sebagai arsitek sukses. Berbagai karyanya tersebar di Indonesia dan di luar negeri, salah satunya di Dubai, Uni Emirat Arab.
Berbekal pengetahuannya, lulusan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini pun sempat menjadi dosen di almamaternya tersebut. Dia pun sukses menjadi Wali Kota Bandung pada periode 2013-2018 dan membawa banyak perubahan besar.
Di bawah kepemimpinannya, Kota Bandung tampak lebih cantik dan tentunya memiliki banyak taman tematik yang indah. Dia juga menjalankan beragam program lainnya dan banyak yang akhirnya juga diaplikasikan di tingkat Jawa Barat.
Semua itu jelas bisa dilakukan karena berawal dari kegemarannya membaca buku dan belajar. Sehingga, saat menjadi pejabat, dia mengambil beberapa kebijakan untuk mengaplikasikan pengetahuannya.
Usai menata Kota Bandung dalam 5 tahun, dia kemudian dilantik menjadi Gubernur pada September 2018 lalu. Sejak saat itu, Emil membenahi Jawa Barat dengan beragam program yang diberi tagline 'Jabar Juara Lahir Batin'.
Saat menjadi Wali Kota Bandung, dia sudah mulai menggagas beberapa gerakan literasi yang jadi konsentrasinya. Salah satunya adalah menghadirkan street library. Street library adalah semacam kotak seperti tempat untuk telepon umum zaman dulu yang dikelilingi kaca. Tapi, di dalamnya berisi beragam buku untuk bacaan gratis warga.
Program itu kemudian dibawa ke tingkat provinsi setelah dia menjadi Gubernur. Inovasi program itu kemudian diberi nama Kolecer alias Kotak Literasi Cerdas. Sehingga, sekarang berbagai daerah di Jawa Barat banyak terdapat kotak tersebut.
Cara itu diharapkan membuat geliat membaca warga Jawa Barat meningkat. Sebab, mereka difasilitasi buku bacaan secara gratis. Kotak itu pun sengaja di simpan di tempat strategis agar mudah diakses publik.
"Kotak-kotak literasi itu berbentuk kotak, ditaruh di pinggir jalan, di taman, dan lain-lain. Itu untuk memperbanyak (warga) berinteraksi membaca buku fisik ketimbang lewat handphone atau gadget," jelas Emil.
Inovasi ini menuai apresiasi positif. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia pada awal September 2019 memberikan penghargaan Nugra Jasa Darma Pustaloka kepada Emil. Penghargaan itu diberikan kepada Emil dalam kategori Pejabat Publik yang Berperan Aktif Terhadap Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Gemar Membaca.
Tapi, hal itu tak membuat Emil puas. Dia semakin terpacu untuk menjadikan literasi sebagai budaya di masyarakat. Berbagai langkah pun akan dilakukan agar semakin banyak warga yang melek akan literasi.
"Intinya dengan penghargaan ini memotivasi kita terus berinovasi meningkatkan indeks literasi di Jawa Barat," pungkas Emil. (Rianto Nurdiansyah)
Editor : Bsafaat

