Triwulan IV 2018, Properti Residensial dan Komersial Melambat

Pada triwulan IV 2018, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar merilis indeks harga properti residensial (IHPR) dan indeks harga properti komersial (IHPK). 

Triwulan IV 2018, Properti Residensial dan Komersial Melambat
INILAH, Bandung - Pada triwulan IV 2018, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar merilis indeks harga properti residensial (IHPR) dan indeks harga properti komersial (IHPK). 
 
Kepala KPwBI Jabar Doni P Joewono mengatakan, dibandingkan triwulan sebelumnya kedua sektor properti itu mengalami perlambatan.
 
“IHPR tercatat mengalami pertumbuhan sebesar4,13% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,97% (yoy),” kata Doni, Jumat (8/3/2019).
 
Menurutnya, perlambatan pertumbuhan harga tersebut bersumber dari seluruh tipe rumah, baik kecil, menengah, maupun besar. Meski demikian, IHPR pada triwulan IV 2018 berada pada level 273,26. Angka ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 271,77. Faktor utama peningkatan IHPR pada triwulan IV 2018 didorong kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja, serta tingginya biaya perizinan. 
 
Selain itu, adanya penambahan fasilitas umum dari pengembang juga mendorong kenaikan harga properti residensial. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan harga properti residensial pada triwulan IV2018yang terjadi pada seluruh tipe rumah, yaitu kecil, menengah, dan besar dengan masing-masing pertumbuhan sebesar4,38%, 4,60%, dan 3,37%.
 
Suku bunga KPR tercatat lebih rendah dan mampu mendorong penyaluran KPR sebesar Rp126,47 triliun atau tumbuh sebesar 15,68% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 16,13% (yoy). 
 
Adapun rata-rata suku bunga untuk KPR di Jabar pada triwulan IV 2018 adalah sebesar 9,64%. Dimana mayoritas sumber pembiayaan konsumen bersumber dari KPR. Sementara, dari sisi pengembang dana internal perusahaan yang berasal dari modal disetor dan laba ditahan tetap menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial. 
 
Kenaikan harga properti residensial disertai dengan melambatnya pertumbuhan KPR mendorong penurunan penjualan properti residensial pada triwulan IV 2018. Penurunan tersebut terjadi pada seluruh tipe rumah, yaitu kecil, menengah, maupun besar. 
 
Sementara itu, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK)  pada triwulan IV2018 tumbuh 0,27% (yoy) melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 0,63% (yoy). Kondisi tersebut dipicu peningkatan indeks pasokan properti komersial ditengah meningkatnya indeks permintaan properti komersial pada triwulan IV 2018.  
 
Indeks pasokan properti komersial pada triwulan IV 2018 tumbuh 1,35% (yoy) atau tercatat sebesar 134,13 lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 132,59. Sementara, indeks permintaan properti komersial pada triwulan IV 2018 tumbuh -0,12% (yoy) atau tercatat sebesar 157,90 lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 155,97.
 
“Pada triwulan I 2019, sektor properti residensial diperkirakan tumbuh 3,25% (yoy). Kondisi tersebut terindikasi dari IHPR yang diperkirakan berada pada level 276,00. Dilihat berdasarkan tipe, tipe rumah kecil mengalami pertumbuhan paling tinggi diikuti pertumbuhan pada tipe rumah besar dan tipe rumah menengah,” ujarnya.


Editor : inilahkoran