Tuntutan Masuk Sekolah Favorit Bisa Picu Anak Depresi
Sekolah favorit masih menjadi stigma sekolah terbaik di benak orang tua. Bukan tanpa sebab, karena sekolah favorit cenderung memiliki guru yang kompeten serta sarana dan prasarana yang memadai bagi siswa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta – Sekolah favorit masih menjadi stigma sekolah terbaik di benak orang tua. Bukan tanpa sebab, karena sekolah favorit cenderung memiliki guru yang kompeten serta sarana dan prasarana yang memadai bagi siswa.
Tak ayal para orang tua rela melakukan apa saja agar anaknya dapat diterima di sekolah favorit mulai dari penambahan jam belajar melalui les tambahan, bimbel dan lainnya. Sehingga mau tidak mau masuk sekolah favorit menjadi tuntutan yang harus dipenuhi anak kepada orangtuanya.
Namun yang kadang dilupakan bahwa tuntutan agar masuk sekolah favorit dapat memicu trauma di usia kecil mereka. Tak jarang jika hal ini tidak disadari orang tua maka yang akan terjadi berikutnya yakni munculnya rasa depresi ketika mereka telah dewasa.
Psikiater di Rumah Sakit Dr Soetomo-Surabaya, Margarita Maramis mengatakan, ketika anak merasakan trauma dari kecil akibat terlalu banyak tuntutan ekspektasi orang tua, maka bisa saja anak akan mengalami depresi berat ketika beranjak dewasa.
"Kasus depresi remaja bisa 4-5 persen, dan biasanya karena putus cinta, dibully (dirundung), atau urusan sekolah," kata Margarita dalam simposium tentang kesehatan mental yang diselenggarakan Lunbeck Regional, Jakarta, Sabtu (22/6/2019).
Jik anak sudah terlanjur mengalami depresi, Margarita menganjurkan para orang tua untuk segera membawa buah hatinya ke psikiater. Sebab jika telah mengidap depresi maka anak akan cenderung menarik diam, lebih banyak diam, dan tidak bisa seproduktif teman ssbayanya.
"Misalnya anak merasa nggak nyaman dari SMP, tapi orang tua tidak memahami itu. Sudah kacau baru dibawa ke psikiater. Jadi lebih baik sedini mungkin diobati agar tidak parah," jelas dia. (Daulat)
Editor : DeryFG

