Udinese 0-2 Milan: Ngeri Rossoneri

DI tengah badai cedera, AC Milan justru menunjukkan karakter dan mentalitas mereka dengan menaklukkan Udinese 2-0 di kandangnya, Senin (26/10) dini hari WIB.

Udinese 0-2 Milan: Ngeri Rossoneri
Net

Oleh: Bsafaat

Bagi pelatih Ruben Amorim, kemenangan ini bukan sekadar tambahan tiga poin. Ada alasan yang jauh lebih besar untuk merasa bangga: para pemain yang mendapat kesempatan tampil mampu menjawab kepercayaan, bahkan ketika tim sedang berada dalam situasi sulit.

Kemenangan di Udine juga menjadi obat penawar setelah Milan sempat melewati periode yang tidak mudah, termasuk kekalahan telak 0-3 dari Bournemouth di Liga Europa. Kali ini, Rossoneri datang dengan tekad untuk bangkit dan membuktikan bahwa mereka masih memiliki daya juang.

Milan langsung memperlihatkan keseriusannya sejak awal pertandingan.

Kecerdikan Luka Modric menjadi awal dari gol pembuka ketika ia mengeksekusi tendangan bebas dengan cepat kepada Christian Pulisic. Tanpa membuang kesempatan, Pulisic menaklukkan kiper Udinese dan membawa tim tamu unggul.

Keunggulan Milan kemudian bertambah lewat Omari Hutchinson.

Pemain tersebut dengan sigap menyambar bola liar hasil tembakan Ardon Jashari untuk mencetak gol keduanya sekaligus gol perdana bagi klub. Sebuah momen istimewa yang terasa semakin berarti di tengah perjuangan Milan menjaga konsistensi.

Milan bahkan hampir memperlebar jarak ketika upaya Goncalo Ramos membuat bola membentur mistar gawang Maduka Okoye. Namun, di balik hasil positif tersebut, kemenangan Rossoneri tetap menyisakan kekhawatiran setelah Ruben Loftus-Cheek harus meninggalkan lapangan dengan berjalan pincang akibat cedera pada menit-menit akhir.

Kemenangan ini terasa lebih istimewa jika melihat kondisi skuat Milan. Amorim harus menyusun strategi di tengah absennya sejumlah pemain penting, mulai dari Adrien Rabiot, Diego Moreira, Mario Gila, Samuel Chukwueze, Matteo Gabbia, Alexis Saelemaekers, hingga Pietro Terracciano.

Situasi tersebut membuat sang pelatih tak punya banyak pilihan.

Ia harus berani memberikan tanggung jawab kepada pemain yang sebelumnya belum banyak mendapatkan kesempatan.

Sankhoun Diawara dan Fikayo Tomori pun dipercaya tampil sejak menit pertama untuk pertama kalinya di Serie A musim ini.

Sementara itu, pemain muda Davide Bartesaghi mendapat tugas berbeda dengan ditempatkan lebih maju untuk membantu serangan.

Di tengah keterbatasan, para pemain tersebut justru memperlihatkan bahwa mereka layak mendapat kepercayaan.

Bagi Amorim, inilah salah satu hal terpenting dari kemenangan di Udine.

“Kalau melihat jadwal di Eropa sekarang, rasanya hampir mustahil untuk dihindari. Setiap pertandingan selalu ada cedera otot baru,” ujar Amorim kepada DAZN Italia.

Padatnya jadwal memang menjadi tantangan tersendiri. Milan harus terus bertanding ketika waktu untuk memulihkan kondisi pemain dan mempersiapkan taktik semakin terbatas.

Namun, Amorim tidak ingin situasi tersebut hanya menjadi alasan. Ia melihat kondisi sulit ini sebagai kesempatan untuk membangun kedalaman skuad sekaligus mempersiapkan masa depan klub.

Bagi Amorim, membangun tim bukan semata-mata soal meraih kemenangan pada pertandingan berikutnya. Ia juga ingin memastikan para pemain muda memiliki ruang untuk berkembang dan merasa bahwa mereka merupakan bagian penting dari perjalanan Milan.

Kesempatan yang diberikan kepada Diawara dan Bartesaghi menjadi bagian dari proses tersebut. Ketika pemain utama absen, para pemain muda dituntut membuktikan kemampuan sekaligus belajar menghadapi tekanan di salah satu klub besar Italia.

“Mereka harus bekerja sangat keras. Hari ini kami dilanda banyak cedera, tapi para pemain membuktikan bahwa mereka siap menghadapi tekanan di klub ini.

Itu yang bikin saya bangga,” kata Amorim.

Pujian itu bukan sekadar bentuk apresiasi atas hasil pertandingan. Ada kepercayaan yang ingin ditanamkan sang pelatih kepada para pemainnya: bahwa kesempatan bisa datang kapan saja, dan mereka harus siap ketika tim membutuhkan.

Bartesaghi menjadi salah satu pemain muda yang mendapat perhatian khusus. Ditempatkan lebih dekat ke lini serang, pemain asal Italia tersebut dinilai memiliki potensi besar, terutama dalam membantu membangun serangan.

“Bartesaghi tampil sangat baik.

Menurut saya, dia memang lebih bagus saat membantu penyerangan daripada ketika bertahan,” jelas Amorim.

Sang pelatih menilai Bartesaghi memiliki kualitas umpan silang yang baik dan kemampuan menyelesaikan peluang yang menjanjikan, sesuatu yang juga terlihat dalam sesi latihan. Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam meningkatkan agresivitas ketika menghadapi lawan dalam duel satu lawan satu.

Bagi pemain muda, evaluasi semacam ini menjadi bagian penting dari proses berkembang.

Kepercayaan sudah diberikan, tetapi perjalanan untuk menjadi pemain yang lebih matang masih panjang. (bsf )


Editor : Inilahkoran