Upacara Hajat Buruan, Tradisi Ungkap Rasa Syukur Masyarakat Cikareumbi Lembang yang Terus Berlangsung
Upacara Hajat Buruan menjadi cara yang dilakukan masyarakat Cikareumbi Lembang mengungkapkan rasa syukurnya terhadap Sang Pencipta.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Upacara Hajat Buruan menjadi cara yang dilakukan masyarakat Cikareumbi Lembang mengungkapkan rasa syukurnya terhadap Sang Pencipta atas seluruh nikmat yang diberikan.
Masyarakat di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, KBB masih menjalankan tradisi adat itu hingga kini. Upacara Hajat Buruan di Cikareumbi Lembang itu dinilai Pamong Budaya dan Nilai Tradisi Disparbud KBB Hernandi Tismara sebagai adat dan tradisi budaya masyarakat berasal dari cipta, rasa, karsa masyarakat itu sendiri.
"Inilah yang selalu dijaga oleh masyarakat Kampung Cikareumbi Lembang dalam kehidupan melalui Upacara Hajat Buruan," katanya, belum lama ini.
Baca Juga: Bawa Berkah, Tradisi Bakar Jagung di Malam Tahun Baru Bikin Petani KBB Raup Untung
"Mereka masih konsisten secara turun-temurun melestarikan tradisi Upacara Hajat Buruan," sambungnya.
Dia menjelaskan, arti Upacara Hajat Buruan yaitu hajat adalah pesta sedangkan buruan berarti halaman rumah.
"Rangkaian Upacara Hajat Buruan merupakan bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas kehidupan masyarakat yang mudah dengan keberkahan dan rejeki," tuturnya.
Selain itu, jelasnya, Upacara Hajat Buruan dipercaya sebagai ritual untuk tolak bala, yakni upaya agar terhindar dari marabahaya yang akan menimpa masyarakat.
Baca Juga: Upacara Panyinglar Wiyasa, Tradisi Unik Warga Desa Nyalindung untuk Tolak Bala
"Ciri adanya tolak bala terletak pada simbol-simbol budaya pada acara Hajat Buruan di mana bentuk sawen atau penghalang atau tameng berupa umbul-umbul, aksesoris di badan, warna pakaian dan musik pengiring," jelasnya.
Dia menambahkan, perhelatan budaya ini tercipta dari amanat leluhur dan pengalaman budaya dari pati hurip daerah tersebut.
"Pati hurip merupakan leluhur yang mengajarkan budaya secara turun-temurun dan sampai saat ini dilaksanakan oleh masyarakatnya," pungkasnya. (Agus Satia Negara)
Editor : inilahkoran

