Upacara Mikul Lodong Kampung Parakansalam Bandung Barat yang Tetap Lestari

Upacara Mikul Lodong di Kampung Parakansalam, Kabupaten Bandung Barat masih menjadi tradisi warisan leluhur yang tetap lestari hingga kini

Upacara Mikul Lodong Kampung Parakansalam Bandung Barat yang Tetap Lestari
Tradisi Upacara Mikul Lodong di Kampung Parakansalam, Kabupaten Bandung Barat yang tetap lestari hingga kini

INILAHKORAN, Bandung,- Kabupaten Bandung Barat menyimpan khazanah budaya unik disamping kekayaan alamnya. Salah satunya tradisi upacara Mikul Lodong di Kampung Parakansalam.

Upacara Mikul Lodong merupakan upacara yang berkaitan adat istiadat masyarakat. Hidup dan berkembangnya upacara Mikul Lodong berada di Paguron Pencak Silat Putera Mekar, Kampung Parakansalam.

Tujuan upacara Mikul Lodong ini untuk mengesahkan dan meresmikan para pesilat yang telah belajar, berlatih dan menyelesaikan jurus-jurus tertentu dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.

Baca Juga: Kabupaten Bandung Miliki Bunga Desa untuk Menyerap Aspirasi Masyarakat

Pamong Budaya dan Nilai Tradisi pada Disparbud KBB, Hernandi Tismara mengatakan, upacara Mikul Lodong diibaratkan sebagai ijazah bagi para pesilat yang telah berhasil menyelesaikan ujian keahlian atau kemahiran ujian beladiri.

"Upacara Mikul Lodong merupakan ajaran leluhur Kampung Parakan salam dan hingga kini masih dilestarikan secara turun-temurun," katanya.

Upacara ini merupakan sebuah ritus, yakni sebuah pemajuan objek kebudayaan di Kampung Parakansalam.

Baca Juga: Longsor Pangalengan, Satu Orang Warga Meninggal Dunia

Menurutnya, adanya upacara Mikul Lodong tidak terlepas dari adanya keberadaasn situs benda budaya air keramat Cikarahayuan dan Cikahuripan yang dibangun pada 1832 oleh Mama Idris (Ayah Katmah).

"Pada tahap awal ritual tepat pada pukul 09.00 WIB para pesilat dan masyarakat berkumpul dan berbaris di depan rumah untuk mengikuti upacara," tuturnya.

Pemangku Adat, Abah Otib selanjutnya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa di depan sesajian dengan diiringi Kidung Pemunah Rasa yang dilanjutkan dengan ritual memercikan air suci dari cawan yang terbuat dari kuningan kepada para pesilat

Baca Juga: Tertibkan Vila Liar di Puncak, Pemkab Bogor Ajukan Bankeu ke Pemprov DKI Jakarta

"Selesai penyucian, para pesilat kemudian lanjut berjalan menuju situs benda budaya Keramat Batu Pangkuan untuk melakukan ziarah," ujarnya.

Datangnya mereka ke Batu Keramat Batu Papn Kuat ini untuk melakukan napak tilas melaksanakan kebiasaan karuhun (leluhur) yaitu bermunajat dan memohon izin kepada Pati Hurip (pendiri kampung) Parakansalam untuk mengambil air di Cikarahayuan dan Cikahuripan.

"Selesai upacara di Batu Papangkuan kembali meneruskan perjalanan menuju sumber mata air keramat untuk mengambil air yang diawali dengan doa dan menepuk air oleh pemangku adat sebagai tanda dimulainya pengisian air ke dalam lodong," terangnya.

Baca Juga: Dijamin Gak Ada Iklan, Begini Cara Nonton Drakor Gratis di Telegram

Setelah semua lodong terisi penuh, seluruh rombongan berjalan menuju tempat upacara untuk menarik atau ngibingkeun lodong yang dibuka dan diawali oleh pemangku adat dengan melakukan ritual tarian sambil memegang lodong.

"Maknanya sadupuhun ka karuhun neda sabda dawuh ka Gusti Allah, yang artinya memohon kepada leluhur agar memperoleh petunjuk dari Allah Subhanahuwata'ala," ucapnya.

Selanjutnya pemangku adat memasukan air dalam lodong ke dalam gentong yang sudah berisi bunga tujuh rupa yang kemudian diiringi dengan tarian atau ibingan mikul lodong yang oleh para pesilat.

Baca Juga: Simak Solusi Jika Gagal Verifikasi KTP Saat Daftar Akun Kartu Prakerja

Setelah selesai, para pesilat ini kemudian berbaris satu per satu untuk diberi air suci yang diberikan oleh sesepuh paguron yang kemudian diperintah untuk berwudhu yang dilanjutkan siraman air pada setiap kepala pesilat oleh Paraji Mak Engkar dengan menggunakan gayung dari batok kelapa.

"Para pesilat diwajibkan mandi sambil memgang batu yang dimaknai bahwa agar para pesilat kuat badannya dan sehat jiwa raganya, serta kokoh seperti batu," ujarnya.

Setelah rangkaian acara selesai dilanjutkan denan doa bersama, serta pemberian nasi tumpeng berkah kepada para pesilat oleh pemangku adat.

Baca Juga: Analisis Roy Suryo Tentang Video Syur Mirip Nagita Slavina: Bukan Rekayasa

"Akhir acara ini ditutup dengan makan bersama-sama sambil menonton hiburan pencak silat dari Paguron Putra Mekar yang telah dilantik," tandasnya.***(Agus Setia Negara)


Editor : inilahkoran