Vaksinasi Bukan Solusi Terakhir Pandemi Covid-19
Kendati vaksin Covid-19 sudah ada dan bisa mulai diberikan kepada sebagian masyarakat, hendaknya masyarakat tak mengganggapnya sebagai solusi pamungkas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Garut- Kendati vaksin Covid-19 sudah ada dan bisa mulai diberikan kepada sebagian masyarakat, hendaknya masyarakat tak mengganggapnya sebagai solusi pamungkas.
Pasalnya, vaksin bukanlah obat yang mematikan Covid-19. Vaksin hanya merangsang tumbuhnya antibodi di dalam tubuh sehingga fatalitas bagi mereka yang terinfeksi bisa dikurangi. Mereka yang sudah divaksin bukan berarti akan kebal dari virus dan tak berpotensi menulari orang lain.
Selebihnya, disiplin terhadap pelaksanaan protokol kesehatan justeru menjadi kunci mengatasi pandemi Covid-19 sebenarnya. Vaksinasi dijalankan tak boleh meninggalkan protokol kesehatan.
Hal itu mengemuka pada Diskusi Publik "Vaksinasi Covid-19, Perubahan Perilaku dan Diseminasi Informasi Persepsi tentang Vaksinasi Covid-19 untuk Masyarakat" digelar BBC Media Action kerjasama Dewan Pers secara Daring, Jum'at (10/1/2021).
Salah satu pembicara dari Satgas Nasional Penanganan Covid-19 Hery Trianto mengatakan, kendati vaksin di Indonesia mulai dapat diberikan rencananya per 13 Januari 2021 dengan prioritas tenaga kesehatan sebelum kemudian kepada masyarakat lainnya, vaksin bukanlah solusi tunggal mengatasi masalah Covid-19.
Dia menegaskan, agar masyarakat bisa santai lagi melakukan aktivitasnya sehari-hari maka kunci mengatasi pandemi Covid-19 itu masyarakat harus tetap disiplin melaksanakan 3M, Memakai masker, Menjaga Jarak, dan Mencuci tangan pakai sabun di air mengalir.
Hery optimis rencana Vaksinasi Covid-19 di Indonesia dapat berjalan baik. Terlebih masyarakat yang menyatakan mau divaksin Covid-19 terbilang besar, mencapai 65 persen.
Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika Widodo Muktiyo juga mengatakan ada sebanyak 65 persen masyarakat Indonesia bersedia divaksin, bahkan sebagian bersedia membayar. Namun Presiden Joko Widowo menegaskan semua vaksin Covid-19 itu diberikan gratis.
Diakuinya komunikasi publik saat ini menjadi tantangan agar masyarakat mau divaksin. "Presiden sangat yakin pada 2021 ini, pandemi Covid-19 dapat diatasi. Berdasarkan penelitian, vaksin bisa selesaikan masalah ini," ujar Widodo.
Dia pun menyinggung adanya nilai positif di balik pandemi dengan terjadinya akselerasi transformasi (kegiatan ekonomi) digital yang mencapai dua digit. Namun untuk mencapai akselerasi transformasi digital tersebut maka semua warga masyarakat harus disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Jangan lengah apalagi menganggap remeh bahaya Covid-19.
Hampir senada mengenai vaksin bukan obat Covid-19 dikemukakan Irma Hidayana dari Koalisi Warga untuk Lapor Covid-19. Namun dia mengemukakan fakta berbeda mengenai banyaknya masyarakat yang mau divaksin Covid-19 seperti diklaim Hery maupun Widodo.
Irma menyebutkan, berdasarkan hasil survi dilakukannya bersama sejumlah organisasi profesi dan jaringan perguruan tinggi, jumlah masyarakat di Indonesia yang menolak atau ragu-ragu terhadap Vaksinasi Covid-19 justeru lebih banyak dibandingkan yang mau divaksin.
Menurutnya, hal itu juga tak terlepas dari kacaunya pendataan kasus Covid-19 serta kurang terbukanya Pemerintah terhadap publik mengenai penanganan Covid-19 termasuk soal vaksin. Data dilaporkan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah juga banyak terjadi perbedaan.
Karenanya, Irma meminta ada perbaikan data kasus Covid-19. Pemerintah/Satgas Covid-19 juga agar lebih jujur dan terbuka mengakui kekurangannya sehingga masyarakat bisa paham dan dapat berperan serta sesuai kemampuannya.
"Vaksin bukan senjata akhir untuk mengatasi pandemi. Vaksin hanya membantu ketahanan tubuh. Uji klinis vaksin itu seperti apa progresnya ? Perlu dikomunikasikan terbuka ke publik. Harus transparan dan buka datanya !" ingat Irma.
Berkaitan banyak warga masih takut divaksin, dokter Indonesia bekerja di NHS London Inggris Ardito Widjono mengatakan, cara terbaik menghadapi persoalan seperti itu dengan mendengarkan alasan mereka takut divaksin untuk kemudian diberikan penjelasan secara baik.
Salah satu dokter asal Indonesia yang pertama kali divaksin di Inggris itu pun sempet menceritakan pengalamannya menghadapi pasien yang skeptis akan vaksin Covid-19, dan pengalamannya sendiri pascadivaksin Covid-19. Tidak ada kelainan apapun kecuali hanya merasakan gejala pegal beberapa saat, namun bisa segera beraktivitas lagi.
Dia pun meyakinkan masyarakat apapun jenis vaksin Covid-19 dipilih Pemerintah Indonesia bagi rakyatnya tentu baik karena telah dipilih melalui pertimbangan yang baik.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh mengingatkan pentingnya membangun kebersamaan dalam menangani Covid-19 dan komunikasi publik agar pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan karena vaksin menempati posisi strategis (dalam mengatasi pandemi Covid-19).
"Paling mahal menumbuhkan partisipasi dan kesadaran publik. Jika (publik) belum siap terima (vaksin) maka cost-nya terlalu tinggi," ujarnya.
Dia juga sempat menyesalkan masih rendahnya jumlah tes Covid-19 dilakukan di Indonesia dibandingkan negara lain bahkan negara tetangga. Ironisnya, kendati jumlah tesnya rendah namun tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia itu justeru paling tinggi dibandingkan negara tetangga.
"Artinya belum menunjukkan realitas sebenarnya. Di lapangan bisa lebih dari catatan yang ada sekarang," imbuhnya khawatir.(zainulmukhtar)
Editor : Bsafaat

