Wajib Coba, Nikmatnya Berbuka Puasa dengan Wajit Cililin

Berbuka puasa tak lengkap rasanya jika tidak mengonsumsi makanan yang manis seperti kurma. Berbuka Puasa dengan wajit cililin

Wajib Coba, Nikmatnya Berbuka Puasa dengan Wajit Cililin
wajit cililin
 
INILAHKORAN, Ngamprah - Berbuka puasa tak lengkap rasanya jika tidak mengonsumsi makanan yang manis seperti kurma.
 
Namun, tak ada salahnya jika berbuka puasa dengan salah satu kudapan tradisional khas Bandung Barat, yakni Wajit Cililin.
 
Selain sebagai salah satu makanan khas yang biasa dijadikan oleh-oleh, Makanan legendaris yang terbuat dari beras ketan, gula aren, kelapa, dan sedikit vanili untuk menambah aroma ternyata juga cocok dinikmati saat berbuka puasa.
 
 
Wajit Cililin akan lebih nikmat bila disantap bersama secangkir teh tawar hangat sebagai penetralisir rasa manisnya. 
 
Tetapi, tahukan anda? Konon dulu, wajit hanya dapat dinikmati oleh kaum bangsawan Belanda, karena pada saat itu beras ketan merupakan bahan baku yang sangat mewah. 
 
Namun kini, siapa pun bisa menikmati wajit karena mudah ditemukan di toko oleh-oleh.
 
 
Wajit Cililin merupakan makanan khas Kabupaten Bandung Barat yang berasal dari Cililin dan telah hadir sejak tahun 1916 hingga kini memasuki generasi ke empat. Untuk tetap bertahan ternyata ada rahasia yang hingga kini terus dijaga.
 
Wajit Cililin memang memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak tahun 1916 hingga generasi ke empat di tahun 2022 ini masih menjadi makanan khas kebanggaan yang diminati masyarakat.
 
Melambungnya nama Wajit Cililin tak lepas dari peran dua orang asli Cililin yang bernama Juwita dan Uti. Keduanya merupakan sosok-sosok yang pertama kali membuat sekaligus memperkenalkan wajit di Cililin pada sekitar tahun 1916.
 
 
Kemudian dilanjutkan Irah yang mengganti brand dengan nama Wajit Cililin Ibu Hj. Siti Romlah, diteruskan kepada anaknya Faisal dan berlanjut kepada Syamsul Ma'arif sebagai generasi keempat pembuat Wajit Cililin.
 
"Saya generasi ketiga penjual wajit, awal bikin tahun 1916 terus dijual secara serius tahun 1936 setelah dipegang sama ibu irah. Dari situ wajit terus berkembang secara bisnis," kata Syamsul Ma'arif yang merupakan generasi ke empat pembuat Wajit Hj Siti Romlah beberapa waktu lalu.***
 
 


Editor : inilahkoran