Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya Ingatkan Peran Penting Keluarga Manfaatkan Bonus Demografi

WAKIL Ketua III DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya mengingatkan kembali peran penting keluarga dalam menangkap peluang dan memanfaatkan bonus demografi.

Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya Ingatkan Peran Penting Keluarga Manfaatkan Bonus Demografi
WAKIL Ketua III DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya mengingatkan kembali peran penting keluarga dalam menangkap peluang dan memanfaatkan bonus demografi.

INILAHKORAN, Bandung- Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung, Edwin Senjaya, Bonus demografi merupakan keuntungan atau kelebihan yang seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Namun syaratnya tentu jika Pemuda yang dihasilkan memiliki nilai-nilai positif.

"Secara statistik, kita memiliki warga dengan usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan usia non produktif. Kondisi itu tentu merupakan sebuah keuntungan," ungkap Edwin Senjaya.

Seperti diketahui, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa dengan 70 persen atau sekitar 190 juta jiwa merupakan penduduk usia produktif. Artinya, memang penduduk usia produktif adalah mayoritas. "Dari 190 juta jiwa tersebut, 53 persennya adalah gen Z. Sehingga kita harus bisa menghasilkan generasi muda yang produktif," ucapnya.

Edwin yang juga merupakan Ketua DPD Partai Golkar Kota Bandung ini mengungkapkan, apa yang menjadi perhatian dan prioritas agar bisa menghadirkan anak muda yang berkualitas, cerdas, kompetitif dan berakhlak mulia. Karena dengan menghasilkan anak muda dengan bibit unggul, maka akan menghasilkan generasi unggul.

"Demikian juga sebaliknya. Jika yang banyak dihasilkan dari bonus demografi ini hanya merupakan generasi muda yang tidak punya keahlian, putus sekolah, maka efeknya juga akan buruk," paparnya.

Menurutnya, halnya di Kota Bandung memang memiliki banyak masalah yang disebabkan buruknya kualitas anak muda. Diantaranya salah satunya kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas. 

"Kita sering mendengar, selama ini banyak kenakalan terjadi di tengah-tengah anak muda di Kota Bandung. Hal ini menunjukkan anak muda di Kota Bandung membutuhkan perhatian lebih. Agar bisa diperbaiki dan menghasilkan yang lebih baik lagi," ucapnya.

Menurut Edwin, banyak cara untuk bisa melahirkan anak muda yang lebih berkualitas. Diantaranya yang paling penting adalah penguatan keluarga. Karena keluarga merupakan organisasi paling kecil dan paling dekat dengan anak-anak.

"Kita harus memberikan sosialisasi dan edukasi, agar orang tua bisa lebih dekat dengan anak-anak. Dalam artian, orang tua harus bisa mempertangungjawabkan apa yang dilakukan oleh anaknya. Mengingat orang tua adalah lembaga terdekat dengan anak-anak," ujar dia.
 
Selain itu, keluarga juga harus bekerjasama dengan lembaga pendidikan. Terutama concern terhadap pembinaan akhlak anak-anak. "Kita berharap agar mereka memiliki budi pekerti yang luhur, cinta keluarga, hormat kepada orang tua dan tidak melakukan kegiatan yang negatif," ujar dia.

Disamping itu, harus ada kerjasama dengan lembaga dakwah dan lmbaga keagamaan. Terlebih dulu, Kota Bandung memiliki program magrib mengaji. Hal ini bisa mencegah anak muda melakukan hal-hal negatif yang tidak diinginkan.  "Saya percaya jika guru keagamaan dilibatkan dalam mendidik dan membimbing anak muda, hasilnya pasti akan lebih maksimal dan memuaskan," ucapnya.

Menurut Edwin, kurangnya minat anak muda sekarang datang dan beraktifitas di masjid karen, orang tua merek juga jarang ke masjid. Sehingga, tidak ada sosok yang menajdi contoh yanng baik untuk mereka.

Di sisi lain, harus ada program yang lebih menyentuh terhadap warga Kota Bandung. Di antaranya kegiatan olahraga untuk anak muda. Jika anak muda sudah gemar berolahraga pasti akan menimbulkan prestasi. "Semua hal ini, dakwah dan penguatan kemampuan harus komprehensif dan bersinergi, dalam melahirkan generasi muda yang unggul dan berkualitas," ujar dia.

Edwin menambahkan, sekarang program pelatihan untuk warga memang ada. Namun apakah itu sudah tepat sasaran atau tidak, masih belum tahu. "Kita juga belum tahu, apakah pelatihan itu cukup optimal atau tidak," tandasnya.***(Yogo Triastopo)


Editor : Ghiok Riswoto