Warga Benda Kerep Kota Cirebon Bangun Pengaman Sungai Sendiri Lantaran Usulan Bertahun-tahun Tak Digubris 

Di tengah keterbatasan dan ancaman bencana yang mengintai, warga RW 11 Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon memilih tidak tinggal diam.

Warga Benda Kerep Kota Cirebon Bangun Pengaman Sungai Sendiri Lantaran Usulan Bertahun-tahun Tak Digubris 
Dengan semangat gotong royong yang masih terjaga kuat, mereka secara swadaya membangun bronjong sebagai benteng pengaman bantaran Kali Benda dari risiko longsor. (maman suharman)

INILAHKORAN.ID - Di tengah keterbatasan dan ancaman bencana yang mengintai, warga RW 11 Benda Kerep, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon memilih tidak tinggal diam. 

Dengan semangat gotong royong yang masih terjaga kuat, mereka secara swadaya membangun bronjong sebagai benteng pengaman bantaran Kali Benda dari risiko longsor.

Kali Benda yang mengalir di kawasan tersebut selama bertahun-tahun belum dilengkapi tanggul maupun pengaman tebing. Padahal, kontur sungai di wilayah ini tergolong ekstrem. Tebing kiri dan kanan sungai menjulang curam hingga sekitar 10 meter, sementara di bagian atasnya berdiri rapat permukiman warga.

Kondisi tersebut menjadi ancaman nyata, terutama saat musim hujan tiba. Luapan air sungai kerap menggerus tanah bantaran, meningkatkan potensi longsor yang bisa mengancam keselamatan warga.

Berangkat dari keresahan itu, warga RW 11 Benda Kerep berinisiatif melakukan langkah antisipatif. Mereka menggalang swadaya untuk pengadaan material hingga pengerjaan bronjong di lapangan. Tanpa menunggu bantuan pemerintah, warga bahu-membahu membangun pengaman tebing demi rasa aman bersama.

Lurah Argasunya Mardiansyah menyebut, wilayah Benda Kerep memang memiliki karakteristik tanah yang rawan longsor. Risiko tersebut semakin besar ketika hujan deras mengguyur dan debit air Kali Benda meningkat.

"Bronjong ini dibuat agar tidak terjadi longsor, apalagi saat hujan deras. Luapan air sungai bisa mencapai permukiman warga," ujar Mardiansyah, Minggu 25 Januari 2026.

Dia menjelaskan, keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk berpangku tangan. Semangat kebersamaan justru menjadi modal utama warga dalam menghadapi ancaman bencana.

Dia mengaku, material bronjong seperti ban bekas itu diperoleh dari hasil swadaya masyarakat. Termasuk, sumbangan para alumni Pondok Pesantren Benda Kerep. Sementara kebutuhan lainnya dipenuhi dari urunan warga sekitar.

"Kami berharap pembangunan bronjong ini bisa memberikan rasa aman bagi warga, khususnya saat curah hujan tinggi," ungkapnya.

Dia menjelaskan, namun semangat gotong royong itu, tersimpan persoalan lama yang belum juga mendapat solusi menyeluruh. Mardiansyah mengungkapkan, kondisi bantaran Kali Benda telah menjadi perhatian warga sejak lama dan berulang kali diusulkan penanganannya kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung.

Ironisnya, berdasarkan laporan para ketua RW, pengajuan penanganan bantaran sungai sudah dilakukan sejak 2020. Bahkan, pihak kelurahan kembali mengajukan usulan perbaikan pada 2023. Namun hingga kini, belum ada kejelasan tindak lanjut.

"Sudah kami ajukan berulang kali bahkan tahun  2023 kami ajukan lagi. Tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan," ucapnya

Dia menambahkan, kali Benda sendiri membentang lebih dari dua kilometer di wilayah Kelurahan Argasunya. Mulai dari Jembatan Lebak Ngok hingga kawasan Masjid Kalilunya dan Kedung Krisik. Sepanjang aliran tersebut, bantaran sungai masih dibiarkan tanpa tanggul permanen maupun penyangga tebing.

"Sepanjang aliran itu belum ada pengaman tebing. Inilah yang membuat wilayah Argasunya sangat rawan longsor," tukasnya.


Editor : Doni Ramdhani