Warga di Sepanjang DAS Citarum Diminta Aktif Melawan Corona
Kedisiplinan dan kepatuhan warga terhadap berbagai instruksi dari pemerintah pusat maupun daerah menjadi upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Jawa Barat. Tak terkecuali bagi 200.000 kepala keluarga di 629 desa dan keluarahan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Kedisiplinan dan kepatuhan warga terhadap berbagai instruksi dari pemerintah pusat maupun daerah menjadi upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Jawa Barat. Tak terkecuali bagi 200.000 kepala keluarga di 629 desa dan keluarahan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.
Ketua Harian Satuan Tugas (Satgas) Citarum Harum Mayjen (Purn) TNI Dedi Koesnadi mengatakan saat ini warga di sepanjang DAS Citarum harus mulai berperan aktif mencegah penyebaran Covid-19 di daerah masing-masing. Salah satunya melakukan penjagaan jarak antar-orang atau social distancing dalam berkegiatan sehari-hari.
"Ketua harian Satgas Citarum juga punya kewajiban untuk mengimbau masyarakat di sepanjang DAS Citarum untuk ikut pencegah penyebaran Covid-19 di wilayah masing-masing. Salah satunya untuk meminta masyarakat menghindari aktivitas yang mengundang gerombolan massa," ugkapnya ketika ditemui di Posko Satgas Citarum Harum, Jalan Ir H Juanda Bandung, Rabu (18/3).
Sudah menjadi budaya masyarakat kegiatan yang bersifat guyub atau kumpul-kumpul kerap tak terpisahkan dari keseharian. Mulai dari berbincang di warung kopi, berkumpul di warung siskamling ataupun sekadar menyambangi rumah-rumah tetangga.
Dedi mengatakan, pembatasan kegiatan di luar rumah yang saat ini telah digalakkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah harus dipatuhi dengan sebaik-baiknya. Imbauan tersebut tidak hanya berlaku bagi kegiatan masyarakat di perkotaan seperti menyambangi mal, pusat hiburan, dan perkantoran. Melainkan juga bagi kegiatan sehari-hari di area rumah yang melibatkan orang untuk berkumpul sebagaimana yang disebut di atas.
"Larangan itu bukan hanya untuk warga yang suka pergi ke mal atau perkantoran, tapi termasuk juga ke kafe-kafe, warung kopi dan tempat lainnya. Intinya warga diminta untuk menjaga jarak, apalagi bila sedang tidak sehat," ungkapnya.
Dia juga meminta masyarakat yang sekolah atau tempat kerjanya diliburkan untuk tidak memanfaatkan hal tersebut untuk bepergian, termasuk pulang kampung. Pasalnya, hal tersebut beprotensi membuat penyebaran virus semakin massif.
"Jangan dulu bepergian selama 14 hari, karena ketika bepergian kemungkinan terkena virus ketika di bus atau di perjalanan itu cukup besar. Sampai di kampung halaman bertemu orang tua, merasa rindu lalu saling memeluk dan sebagainya. Itu berpotensi besar menularkan virus," ungkapnya.
Alih-alih bepergian, dia meminta para orang tua dan anak-anak yang sekolahnya diliburkan untuk saling bekerja sama membangun suasana belajar yang nyaman di rumah. Pembatasan kegiatan selama 14 hari tersebut dinilai dapat membuka kesempatan keluarga untuk lebih dekat satu sama lain.
"Yang biasanya sibuk dari pagi sampai sore sekarang punya lebih banyak waktu. Temani juga anak belajar di rumah sesuai dengan pelajaran di sekolah. Ganti kegiatan mengaji bersama di sore hari denga mengaji di rumah dan sebagainya," ungkapnya.
"Apa yang terjadi ke depannya bergantung dengan apa yang kita lakukan dalam 14 hari ini. Akhirnya upaya pemerintah melawan Covid-19 bisa sia-sia bila masyarakat tidak patuh terhadap imbauan," katanya.
Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil Ridwan mengaku terus berkoordinasi melalui Pusat Komunikasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar).
Pemprov Jabar akan melakukan tes proaktif melalui Labkes Jabar berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran Unpad, dan Pusat Penelitian Nano Sains dan Nano Teknologi ITB.
"Jadi tidak menunggu dulu orang bergejala masuk rumah sakit baru dicek, hasilnya positif negatif ke pusat," ujarnya.
Selain itu, Pemprov Jabar juga melakukan tes proaktif kepada tenaga kerja asing dan keluarga pasien. Ridwan melanjutkan, tes proaktif ini hasilnya akan keluar sekitar lima jam dari hasil tes keluar dengan prosedur satu orang akan melewati dua tahap teknis pemeriksaan
"Jadi tes ini hasilnya dapat diketahui dengan cepat. Data ini untuk kami jadikan panduan merespons selanjutnya. Mudah-mudahan (dari tes proaktif) tidak ada yang positif tapi kalau positif berarti terjadi peredaran bukan hanya diorang bergejala," pungkasnya. (riantonurdiansyah)
Editor : Bsafaat

