Yaqut Bikin Gaduh Bandingkan Toa Masjid dengan Gonggongan Anjing, Cak Imin: Pemerintah Tidak Usah Ngatur

Pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kembali menuai polemik. Pernyataan iitu hingga menarik perhatian banyak pihak.

Yaqut Bikin Gaduh Bandingkan Toa Masjid dengan Gonggongan Anjing, Cak Imin: Pemerintah Tidak Usah Ngatur
Yaqut Bikin Gaduh Bandingkan Toa Masjid dengan Gonggongan Anjing, Cak Imin: Pemerintah Tidak Usah Ngatur

INILAHKORAN,Bandung – Pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kembali menuai polemik. Pernyataan iitu hingga menarik perhatian banyak pihak.

Yaqut Cholil Qoumas baru-baru ini mengeluarkan pernyataan seolah membandingkan antara pengeras suara (toa) masjid dengan gonggongan anjing.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin turut angkat bicara terkait ramainya publik membicarakan hal tersebut.

Baca Juga: Muhasabah Diri Awali Bulan Ramadhan, Ustadz Evie Effendi: Kematian Sudah Dekat

Cak Imin mengatakan, terkait Toa masjid menurutnya adalah kearifan local sehingga pemerintah tak perlu turut mengatur.

“Selamat sore bos. Soal toa itu kearifan lokal masing masing aja, pemerintah tidak usah ngatur-ngatur,” tulis Cak Imin di akun Twitternya.

Dia mengatakn bahkan di sebagian daerah di Tanah Air ini Toa bukan hanya sarana dakwah tetapi juga menjadi sarana hiburan masyarakat.

Baca Juga: Berani Menimbun Minyak Goreng, Penjara dan Denda Siap Menanti

“Disemua kampung toa malah jadi hiburan, selain syiar agama..,” ucapnya.

Wakil ketua DPR RI itu meminta agar sebaiknya aturan yang mengatur terkait Toa masjid itu untuk dicabut.

“Cabut aja aturan-aturan yang gak perlu..,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menag Yaqut telah mengeluarkan Surat Edaran yang mengatur terkait penggunaan pengeras suara di masjid atau musala.

Baca Juga: Saat Kenyataan Belum Sesuai Harapan, Coba Baca Doa Pendek Ini!

Saat menyampaikan soal tujuan pengaturan tersebut, Yaqut menyebut aturan tersebut dikeluarkan agar hubungan antarumat beragama lebih harmonis.

Sehingga tidak akan ada yang merasa terganggu dengan suara toa yang berbunyi hingga lima kali sehari.

"Kita bayangkan, saya Muslim saya hidup di lingkungan nonmuslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?" ucap Yaqut dikutip dari Antara.

Baca Juga: Rusia Vs Ukraina Memanas, Kemenlu Pastikan 138 WNI Aman

Dia pun memberikan contoh yang dianggap seolah membandingkan pengeras suara di masjid atau musala dengan gonggongan anjing.

"Contohnya lagi, misalnya tetangga kita kiri kanan depan belakang pelihara anjing semua, misalnya menggonggong di waktu yang bersamaan, kita terganggu tidak? Artinya semua suara-suara harus kita atur agar tidak menjadi gangguan," bebernya.***


Editor : inilahkoran