YSMI Gencar Sosialisasikan Kesehatan Mental
Maraknya berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental di Indonesia menjadi perhatian banyak pihak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Maraknya berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental di Indonesia menjadi perhatian banyak pihak. Perlu adanya pemahaman sebagai langkah preventif sekaligus solusi untuk mengantisipasi permasalahan tersebut.
Sedangkan, di masyarakat umum masih sering terjadi kesalahpahaman mengenai topik kesehatan mental. Maka dari itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah ini Yayasan Sehat Mental Indonesia (YSMI) bekerja sama dengan Switch Up, mengadakan Happiness Project yang merupakan sebuah rangkaian acara bertujuan untuk mempromosikan kesadaran dan meningkatkan pemahaman mengenai kesehatan mental.
Happiness Project Vol.1 ini diadakan di Cafe Halaman, Jalan Tamansari No 92, Bandung, Sabtu (21/9/2019). Happiness Project adalah sebuah acara yang dikemas dalam bentuk talkshow yang diisi oleh pembicara ahli kesehatan mental dr Rama Giovani SpKJ dengan moderator Saeful Zaman SPsi, MM dengan tujuan untuk membahas pertanyaan-pertanyaan dan misinformasi yang umum muncul dalam diskusi kesehatan mental di masyarakat.
Rangkaian kegiatan ini dibagi menjadi dua acara yang dilaksanakan, yakni Happiness Project Vol. 1 dan Happiness Project Vol. 2. Pada Vol. 1 kali ini di diskusikan aspek-aspek kesehatan mental secara umum, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan gangguan dan gejala yang umum muncul seperti stres dan depresi.
Selain itu, juga pembahasan mengenai bahaya informasi yang mulai meningkatkan kesadaran namun tidak sejalan dengan meningkatnya pemahaman kesehatan mental sehingga muncul isu seperti self- diagnosis di mana seseorang melakukan diagnosis pada dirinya sendiri, contohnya ketika mengira dirinya mengalami gangguan mental tertentu yang belum tentu dialami.
Hal ini tentu sangat berbahaya karena dapat menghambat orang tersebut mendapatkan perawatan yang baik. Kemudian stigma yang masih ada dalam masyarakat mempersulit seseorang untuk bisa mencari bantuan kepada ahli profesional.
Juga, dibahas mengenai bagaimana mencegah gangguan mental dan menjaga agar lebih sehat, salah satunya dengan mengetahui jati diri sehingga dapat hidup lebih maksimal dan sesuai dengan kemampuan dan keinginannya.
Tak hanya itu, acara ini juga dikemas dengan berbeda, alunan musik yang dibawakan Asep Zaki Yahya Zakarya (gitaris+vokalis) dan Ammy Kurniawan (biola) turut melengkapi serta memberikan suasana yang berbeda dalam acara talkshow ini.
Kenali Dirimu, Kenali Kesehatan Mentalmu
Co- Founder Switch Up sekaligus narasumber dr Rama Giovani, SpKJ menuturkan, jadi yang melatarbelakangi kegiatan ini adalah satu memberikan awareness, memberikan edukasi tentang kesehatan mental di masyarakat.
Spesifiknya, memberikan promosi dan preventif sifatnya, karena selama ini persepsi masyarakat terhadap kesehatan mental itu identik dengan mengobati dan merehabilitasi.
“Nah sekarang kita memfokuskan pada bentuk-bentuk pencegahan, mencegah supaya tidak terjadi gangguan-gangguan jiwa, kenapa bisa itu? Dari data yang ada memang masih banyak orang- orang yang belum paham apa itu kesehatan mental? Selama ini, banyak yang menganggap masalah kesehatan mental itu bukan penyakit, dan malah disebut masalah kelemahan,” tutur Rama.
Dia menjelaskan, pihaknya ingin paradigma dan persepsi masyarakat berubah, supaya masyarakat itu lebih mengenal bahwa masalah seperti ini bukan aib. Kenapa? Karena jumlah penderita masalah mental itu banyak, bahkan yang sedang-sedang seperti ini bisa mencapai 20 persen.
“Kalau kita mau ngomongin tentang kesehatan jiwa itu harus dimulai dari pembuahan sampai mau meninggal, jadi masalahnya itu kan dimulai dari gen, itu ketika terjadi proses pembuahan spermanya sehat gak? Waktu melakukan hubungan lagi pada nyaman gak? Itu bisa jadi salah satu faktor penyebab masalah kesehatan mental,” jelasnya.
Rama menambahkan, berbeda jika istri atau suaminya lagi gak nyaman, waktu hamil si calon ibunya stres gak, suaminya gimana? Itu juga akan beda hasilnya. Waktu lahir pendekatan terhadap ibu atau bapaknya gimana, waktu sekolah gimana, hingga waktu menghadapi kematiannya gimana?
“Untuk membahas masalah ini harus dari keluarga, dari diri sendiri dulu seperti apa? Pernah ada penelitian, ketika ada ibu-ibu hamil melakukan pemeriksaan ke puskesmas ditanya masalah kesehatan jiwanya, ternyata lebih dari 30 persen mengalami gangguan emosi, dan jumlah perempuan itu lebih banyak, dan juga perempuan ini melahirkan aset-aset bangsa, kalau seorang perempuan sakit, bagaimana dengan anak-anaknya?” ujar Rama.
Menurutnya, sekarang ada yang disebut golden experience, jumlah orang dengan usia produktif itu paling banyak di Indonesia, kalau di Jepang lebih banyak lansia.
“Kita lagi banyak-banyaknya SDM dengan usia produktif, kalau kita tidak serius menangani permasalahan ini mau seperti apa bangsa kita? Itu bisa rusak negara bisa stres,” kata Rama.
Dia memaparkan, menyikapi fenomena bonus demografi ini, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah dengan sering mengadakan sosialisasi dan promosi kesehatan seperti yang tadi dilakukan sebesar dan sesering mungkin dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya dari penyakit mental ini.
“Kurangnya apresiasi dan atensi dari berbagai pihak menjadikan permasalahan yang berkaitan dengan penyakit mental ini dianggap sepele,” ujar Rama.
Rama menambahkan, salah satu contoh kasusnya dalam pemberitaan yang beredar belum lama ini ada seorang ibu yang tega menghabisi nyawa anaknya atau kasus bunuh diri yang terjadi. Kenapa tidak di teliti lebih mendalam tentang mengapa dia melakukan tindakan tersebut, penyakit mental apa yang diderita?ini sebenarnya bisa diantisipasi, ketika gejala-gejala terlihat.
“Misal dalam kehidupan sehari-hari terlihat biasa saja, namun dia mengekspresikan hal berbeda melalui media sosial, dia mencurahkan stres dan frustrasi melalui media. Itu merupakan salah satu gejala dan harus segera diberi tindakan serta dikonsultasikan untuk kemudian mendapat perlakuan khusus agar tidak terjerumus lebih dalam,” ujar Rama.
Sementara itu, Firza Aulia Syafina salah satu peserta talkshow, mahasiswi ITB mengaku, sangat senang ketika ITB mendapat undangan dari Switch Up, karena kebetulan dari ITB ini tidak ada studi yang berkaitan dengan Psikologi atau Psikiater.
“Jadi di ITB ini kebanyakan basisnya engineer, teknologi, jadi kami berharap banget bisa menambah ilmu dan wawasan mengenai kesehatan mental ini sehingga bisa diterapkan juga di kampus. Acara ini sangat bermanfaat banget bagi mahasiswa ITB yang notabene gak belajar psikologi di bangku kuliah,” ujar Firza.
Firza menjelaskan, sebetulnya di ITB sendiri masalah yang dihadapi mahasiswa ini sangat beragam, dari akademik sendiri salah satunya masalah belum lulus mata kuliah. Sedangkan di ITB ada mata kuliah yang harus lulus dalam dua tahun, lebih dari itu harus di-drop out.
Kemudian ada juga yang merasa tidak cocok dengan jurusan yang diambil, sehingga mahasiswa tersebut malas untuk kuliah dan berpengaruh terhadap mentalnya. Selain itu, permasalahan yang lain ada pula mahasiswa ITB ini yang merasa dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya, sehingga dia cenderung murung dan menutup diri.
“Kemarin ada sempat akan diadakan kampanye dan diskusi di setiap himpunan jurusan untuk membantu teman-teman yang sedang mengalami permasalahan. Namun, ke depan kita akan rencanakan untuk mengadakan talkshow dengan narasumber psikiater dan psikolog agar teman-teman mahasiswa yang memiliki masalah ini bisa mendapatkan solusi dalam memecahkan setiap permasalahannya,” jelas Firza.
Acara talkshow ini tentunya masih bagian pertama dari rangkaian acara Happiness Project. Acara selanjutnya yaitu Happiness Project Vol. 2 akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2019 di Bandung Creative Hub. (Agus SN)
Editor : suroprapanca

