17 Tahun Beasiswa Rumah Yatim, 161 Alumni Kini Bekerja dan Mandiri

Selama 17 tahun, beasiswa Rumah Yatim telah mendukung ratusan mahasiswa. Sebanyak 223 lulusan dan 161 alumni kini telah bekerja dan mandiri.

17 Tahun Beasiswa Rumah Yatim, 161 Alumni Kini Bekerja dan Mandiri
17 tahun perjalanan Rumah Yatim, 480 anak terima beasiswa, 223 lulus, 161 sudah bekerja dan mandiri.

INILAHKORAN.ID – Program beasiswa kuliah Rumah Yatim telah berjalan selama 17 tahun dan turut membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Indonesia.

Hingga 2026, tercatat 480 orang telah menerima dukungan melalui program tersebut. Sebanyak 180 mahasiswa masih aktif kuliah, sementara 223 mahasiswa telah lulus dan menyelesaikan pendidikan.

Dari jumlah lulusan tersebut, 161 alumni telah terserap di dunia kerja. Capaian itu menunjukkan bahwa program beasiswa tidak hanya membantu penerima menyelesaikan pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi.

Direktur Marketing dan Komunikasi Rumah Yatim Sani Ramdani mengatakan pendidikan merupakan salah satu investasi strategis untuk memutus mata rantai keterbatasan ekonomi antargenerasi.

beasiswa kuliah bukan hanya tentang membantu mahasiswa membayar biaya pendidikan,” kata Sani dalam keterangannya, Kamis (13/8/2026).

“Lebih dari itu, kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memiliki masa depan yang lebih baik, mengembangkan kompetensinya, dan pada akhirnya mampu mandiri serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” sambungnya.

Program beasiswa kuliah Rumah Yatim dimulai pada 2009 dengan dua penerima. Jumlah penerima kemudian terus bertambah dan mencapai angka tertinggi pada 2022 dengan 90 mahasiswa.

Pada 2025, terdapat 41 penerima baru, sedangkan pada 2026 tercatat 30 mahasiswa baru. Secara kumulatif, jumlah penerima yang tercatat berdasarkan tahun masuk mencapai 452 mahasiswa.

Bidang studi yang dipilih penerima beasiswa juga cukup beragam. Jurusan Pendidikan (Soshum) menjadi bidang dengan jumlah mahasiswa terbanyak, yakni 142 orang.

Selanjutnya, bidang Teknik sebanyak 79 mahasiswa, Hayati yang mencakup pertanian, peternakan, dan pangan sebanyak 51 mahasiswa, serta Keperawatan dan Kebidanan sebanyak 48 mahasiswa.

Sementara itu, Ilmu Pendidikan (Saintek) tercatat 34 mahasiswa. Penerima lainnya menempuh pendidikan di bidang Farmasi, MIPA, Ilmu Sosial, Kedokteran, Akuntansi, Manajemen, Penyiaran, dan sejumlah bidang lainnya.

Dukungan beasiswa Rumah Yatim juga menjangkau berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi perguruan tinggi dengan jumlah penerima terbanyak, yakni 24 mahasiswa. Selanjutnya Universitas Padjadjaran (Unpad) sebanyak 21 mahasiswa, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 19 mahasiswa, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) 14 mahasiswa.

Sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) masing-masing menampung empat mahasiswa penerima beasiswa.

Penerima lainnya tersebar di Universitas Diponegoro, Universitas Sebelas Maret, serta puluhan perguruan tinggi negeri lainnya.

Dari total 223 mahasiswa yang telah lulus, bidang Pendidikan (Soshum) kembali menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan 87 orang.

Kemudian Keperawatan dan Kebidanan sebanyak 28 lulusan, Teknik serta Ilmu Pendidikan (Saintek) masing-masing 20 lulusan, dan bidang Hayati sebanyak 18 lulusan.

Sani menilai, capaian 161 alumni yang telah bekerja menjadi salah satu indikator bahwa manfaat program beasiswa Rumah Yatim tidak berhenti ketika penerima menyelesaikan pendidikan.

Para alumni kini telah memasuki dunia kerja dan menjadi bagian dari kelompok produktif yang diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Fakta 161 alumni telah bekerja menjadi bukti bahwa dampak program ini melampaui masa perkuliahan, mereka kini menjadi kekuatan produktif yang berkontribusi,” ujar Sani.

Ia berharap dukungan masyarakat terhadap program beasiswa tersebut terus berlanjut sehingga semakin banyak anak berprestasi dari keluarga kurang mampu dapat mengakses pendidikan tinggi.

“Harapannya, dengan dukungan masyarakat yang terus berlanjut, semakin banyak anak berprestasi namun terkendala ekonomi dapat melanjutkan mimpinya hingga ke perguruan tinggi dan menjadi generasi yang mandiri serta bermanfaat,” tandasnya.


Editor : Ahmad Sayuti