20 Tahun Tersesat, Pertarungan Asep Margono Membongkar Jebakan NII

20 tahun hidup dalam lingkaran Negara Islam Indonesia (NII) membuat Asep Margono hafal luar dalam bagaimana organisasi itu bekerja. Ia pernah berada di dalamnya, memercayai ideologinya, menjalankan perintah-perintahnya, hingga akhirnya sadar bahwa semua yang ia kejar hanyalah ilusi.

20 Tahun Tersesat, Pertarungan Asep Margono Membongkar Jebakan NII
20 tahun hidup dalam lingkaran Negara Islam Indonesia (NII) membuat Asep Margono hafal luar dalam bagaimana organisasi itu bekerja. Ia pernah berada di dalamnya, memercayai ideologinya, menjalankan perintah-perintahnya, hingga akhirnya sadar bahwa semua yang ia kejar hanyalah ilusi.

INILAHKORAN.ID - 20 tahun hidup dalam lingkaran Negara Islam Indonesia (NII) membuat Asep Margono hafal luar dalam bagaimana organisasi itu bekerja. Ia pernah berada di dalamnya, memercayai ideologinya, menjalankan perintah-perintahnya, hingga akhirnya sadar bahwa semua yang ia kejar hanyalah ilusi.

Asep bergabung pada 1990, saat usia muda dan idealismenya sedang menyala. Ajakan seorang teman membuatnya yakin ia tengah menuju perjuangan besar. Baru dua dekade kemudian ia melihat kenyataan pahit, arah perjuangan itu kosong, bahkan menjerumuskannya jauh dari akal sehat.

"Saya sadar, karena melihat perjalanan dari setiap faksi tidak ada yang menyentuh kepada titik mengganti kedaulatan negeri ini. Mereka hanya memanfaatkan kebodohan orang," ujar Asep, Jumat 12 Desember 2025.

Kesadaran itu datang pada 2010, saat ia memutuskan keluar. Kalimat “Jauh Panggang dari Api” menjadi gambaran paling tepat terhadap apa yang ia alami. Tidak ada cita-cita membangun negara, tidak ada perjuangan ideologi, yang ada hanyalah manipulasi.

Setelah bertaubat dan berikrar kembali kepada NKRI, Asep memilih jalur panjang yang baru: menyelamatkan orang lain dari kegelapan yang pernah membutakannya. Ia membangun Yayasan Prabu sebagai ruang aman bagi mereka yang hendak meninggalkan NII.

"Makanya saya pimpin organisasi ini, karena banyak yang terlibat (NII). Kasihan," katanya.

Ia tahu persis bagaimana jaringan itu merekrut. Mereka mencari anak muda yang sedang mencari jati diri, fase paling rapuh yang sering jadi pintu masuk ideologi ekstrem. Doktrin-doktrin yang disampaikan dibungkus dengan bahasa agama, padahal di baliknya hanya ada kepentingan kelompok.

"Makanya sering dulu. Tahun 2015 banyak anak sekolah meninggalkan orang tua, karena menganggap kafir," tutur Asep, mengingat masa ketika banyak pelajar memutus hubungan dengan keluarga hanya karena ajaran sesat tersebut.

Asep menyebut Jawa Barat sebagai salah satu basis kuat penyebaran NII. Mereka bergerak senyap, menyusup ke berbagai daerah, dan menyasar sekolah menengah sebagai ladang empuk perekrutan.

"Pemerintah, terutama di pendidikan SMA. Sebab kalau itu tidak disentuh, ideologi (NII) sudah masuk ke pikiran anak muda, itu sulit dibersihkan," katanya.

Dari 41 faksi NII yang saat ini teridentifikasi, tujuh di antaranya aktif merekrut anak muda. Bahkan ada kelompok yang mulai berimajinasi membangun kekuatan militer.

"Itu dia, sampai berencana membuat kekuatan militer, memiliki negara dan seterusnya," ungkapnya.

Yayasan Prabu mencatat setidaknya 262 ribu orang pernah berbaiat ke NII. Angka itu belum termasuk anggota keluarga yang ikut terseret karena pola rekrutmen yang berantai.

"Makanya, masih banyak. Pemerintah perlu memproteksi terkait ideologi ini, karena ketika seseorang sudah dicuci otaknya untuk membenci negara," ucapnya.

Penyebaran juga tak berhenti di dalam negeri. Jaringan NII terhubung dengan kelompok ekstrem di Malaysia dan Filipina, termasuk entitas seperti Jamaah Islamiyah.

"Yang aktivitasnya di Malaysia, Filipina. JI itu adalah bagian dari jaringan ini," tuturnya.

Yang paling mengkhawatirkan, menurut Asep, adalah infiltrasi ke pemerintahan. Ia mengaku menemukan pejabat yang ternyata bergabung dengan jaringan tersebut.

"Dia akan mengalihkan, mengatur sistem di negeri ini. Dia akan mengalihkan pembayaran keuangan ke organisasi dia," katanya.

Keterangan itu menunjukkan bahwa penetrasi ideologi ekstrem tidak hanya mengancam individu, tetapi juga potensi manipulasi kebijakan negara.

Asep kini berada di garis depan pertarungan itu. Dari seseorang yang pernah terperosok selama 20 tahun, ia menjelma menjadi saksi hidup bagaimana ideologi dapat mengubah cara pandang dan merusak hubungan manusia.

Ia tahu, perjuangannya panjang. Namun baginya, menyelamatkan satu orang saja dari cengkeraman NII adalah cara membayar kesalahannya di masa lalu dan ia berharap negara tidak lengah.

NII dimulai dari gerakan Darul Islam (DI) dan diproklamasikan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949 di Tasikmalaya. Tujuannya untuk menjadikan NKRI sebagai negara teokrasi Islam.

Gerakan ini melibatkan perlawanan bersenjata (DI/TII) dan memicu konflik dengan pemerintah Republik Indonesia, sebelum akhirnya Kartosoewiryo dieksekusi pada 1962, namun ajarannya terus hidup dan bermetamorfosis menjadi berbagai kelompok, termasuk yang terkait dengan isu-isu kontemporer seperti NII.***


Editor : JakaPermana