50 Persen Perajin Sarung Majalaya Ambruk

Hampir 50 persen perajin Sarung Majalaya ambruk, dan beralih ke komoditi lain. Kondisi ini terjadi sejak lima tahun terakhir. Hal itu diperparah oleh regenerasi perajin, kualitas produk, hingga daya saing.

50 Persen Perajin Sarung Majalaya Ambruk
Foto: Net

INILAH, Bandung – Hampir 50 persen perajin Sarung Majalaya ambruk, dan beralih ke komoditi lain. Kondisi ini terjadi sejak lima tahun terakhir. Hal itu diperparah oleh regenerasi perajin, kualitas produk, hingga daya saing.

Ketua Dekranasda Jabar Athalia Praratya mengaku sedang menyusun roadmap untuk membangkitkan perajin sarung di Jabar, khususnya Majalaya. Terlebih setelah dirinya menyusuri sejumlah wilayah di Indonesia, umumnya perajin sarung tersebut berasal dari Jawa Barat, misalnya Majalaya dan Tasikmalaya.

“Sarung kita harus berjaya lagi. Kita perkuat supaya pelaku usaha ini mampu menghadirkan regenerasi. Kita akan bantu, misalnya kekurangannya dari sisi apa. Misalnya manajemen keuangan atau harus menjual secara e-commerse. Mereka harus dipetakan dulu permasalahannya sehingga jangan sampai menghilang,” kata Athalia usai membuka Pelangi Nusantara 7 di Graha Manggala SIliwangi Jalan Aceh, Kota Bandung, Rabu (27/11/2019).

Athalia menyatakan, Dekranasda Jabar akan mencoba memetakan berbagai permasalahannya, mulai kurangnya informasi, pembinaan, bahan baku, supaya mendorong pelaku usaha sesuai kebutuhan yang diperlukan. Pantauan terakhir, perajin sarung ini sudah tidak memiliki potensi karena kurangnya dukungan pemerintah, termasuk regenerasi yang masih sangat kurang.

“Upaya Dekranasda Jabar dibantu Pemprov Jabar dalam membangkitkan lagi perajin sarung mendapat sokongan pemerintah pusat. Kita akan dorong perajin ini bisa menyesuaikan dengan tren terkini. Pertumbuhan ekonomi masyarakat itu kan sangat dipengaruhi tren. Makanya ikuti atau harus menciptakan tren baru,” jelasnya.

Athalia mengatakan, pihaknya pun berkerjas ama dengan Kemenperindag, industry kreatif, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraf Indonesia (ASEPHI), supaya mengetahui kebutuhan pasarnya. Lalu pelaku berkreasi sesuai kebutuhan pasar tersebut.

“Kita akan habis waktu, tenaga, dan uang, kalau tidak menyesuaikan dengan tren, dalam negeri atau luar negeri. Jadi perlu ada pameran-pameran untuk menghubungkan, menyosialisasikan, mempeormosikan, mengedukasi masyarakat soal produk kebanggaan kita itu,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat M Arifin Soendjayana mengatakan, menurunnya jumlah perajin sarung di Majalaya memang tak bisa ditutup-tutupi. Pemprov Jabar akan mencoba untuk membangkitkan lagi gairah industri sarung Majalaya.

“Dekransasda menjadi wadah untuk meningkatkan dan melestarikan perajin sarung ini. Pertama kita bekerja sama dengan pihak swasta untukm membuat masterplan kebangkitan sarung di Jabar. Dekranasda sudah melakukan MoU dengan akademisi dan swasta untuk membuat roadmapnya seperti apa, salah satunya Telkom University,” ungkapnya.

Arifin mengakui pesanan sarung itu ramai pas mau lebaran atau pilkada. Namun gairah tersebut menurun drastis setelahnya. Karena itu kualitas sarung Majalaya harus ditingkatkan.

“Kita ini coba menggulirkan supaya kualitas sarungnya betul-betuk bagus. Jangan sekali cuci, mengkerut. Perajin juga kita lestarikan. Pada 2020-2021, kita bertahap mengembangkan sarung ini,” ucapnya.


Arifin menyatakan, sarung Majalaya beruntung sudah mendapatkan brand di masyarakat. Berbeda dengan sarung-sarung lokal, seperti Solo atau Pekalongan. Namun perajin sekarang terbatas oleh pasar, kondisi mesin yang sudah tua, desainnya, bahannya, serta daya saing yang sangat rendah.

“Gempuran sarung luar juga cukup tinggi. Kita harus punya kehasan, keunikan, supaya sarung ini bertahan. Kita optimis bangkit lagi,” tegasnya. (Dery Fitriadi Ginanjar)


Editor : DeryFG