6 Penyebab Keputihan Lengket dan Cara Mengatasinya dengan Benar

kadang-kadang, cairan vagina bisa berubah menjadi kental, lengket, atau berlebihan, yang menimbulkan kekhawatiran bagi banyak wanita.

6 Penyebab Keputihan Lengket dan Cara Mengatasinya dengan Benar
penyebab keputihan lengket/freepik

INILAHKORAN, Bandung - Cairan vagina merupakan bagian alami dari fungsi reproduksi wanita. Cairan ini berfungsi untuk menjaga kebersihan dan kelembapan vagina, serta melindungi area tersebut dari infeksi. 

Namun, kadang-kadang, cairan vagina bisa berubah menjadi kental, lengket, atau berlebihan, yang menimbulkan kekhawatiran bagi banyak wanita. Meskipun dalam banyak kasus hal ini normal, ada kalanya perubahan tersebut bisa menandakan masalah kesehatan tertentu.

Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang penyebab cairan vagina yang kental dan lengket, serta bagaimana cara mengatasinya.

Apa Itu Cairan Vagina yang Kental dan lengket?

Cairan vagina adalah sekresi alami yang diproduksi oleh kelenjar di dalam vagina dan serviks. Cairan ini berfungsi untuk membersihkan dan melumasi vagina. Kadar dan tekstur cairan vagina bisa berubah-ubah tergantung pada siklus menstruasi, hormon, aktivitas seksual, serta faktor kesehatan lainnya.

Namun, jika cairan vagina menjadi lebih kental, lengket, atau berwarna tidak biasa, ini bisa menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu. Cairan yang kental dan lengket biasanya berwarna putih atau transparan, dan pada beberapa kasus bisa disertai dengan bau yang tidak sedap.

penyebab Cairan Vagina Kental dan lengket
Berikut adalah beberapa penyebab umum cairan vagina yang kental dan lengket:

1. Perubahan Hormon Selama Siklus Menstruasi
Salah satu penyebab utama perubahan tekstur cairan vagina adalah fluktuasi hormon yang terjadi selama siklus menstruasi. Di awal siklus, setelah menstruasi, cairan vagina biasanya lebih kental dan berwarna keruh. Namun, menjelang ovulasi (sekitar hari ke-14 dari siklus menstruasi yang berlangsung 28 hari), cairan vagina cenderung lebih banyak dan lebih cair, memberikan kelembapan yang dibutuhkan untuk mendukung kehamilan. Setelah ovulasi, cairan akan kembali lebih kental dan lengket.

Tips: Perubahan tekstur cairan ini sepenuhnya normal dan biasanya tidak perlu dikhawatirkan, kecuali jika disertai dengan gejala lain seperti gatal atau bau yang tidak biasa.

2. Infeksi Jamur (Vaginal Candidiasis)
Infeksi jamur adalah salah satu penyebab umum cairan vagina yang kental dan lengket. Infeksi ini biasanya disebabkan oleh jamur Candida, yang bisa berkembang biak secara berlebihan, terutama ketika keseimbangan mikroflora vagina terganggu. Selain cairan vagina yang kental dan lengket, infeksi jamur juga sering disertai dengan gejala lain, seperti gatal, perih, rasa terbakar saat buang air kecil, dan kemerahan pada area genital.

Tips: Jika Anda mengalami gejala-gejala ini, disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Pengobatan infeksi jamur biasanya melibatkan penggunaan krim atau pil anti-jamur yang diresepkan oleh dokter.

3. Bacterial Vaginosis (BV)
Bacterial vaginosis (BV) adalah infeksi vagina yang disebabkan oleh ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di dalam vagina. BV dapat menyebabkan cairan vagina yang lebih kental, berwarna abu-abu atau putih, dan berbau amis. Meskipun BV bukan infeksi menular seksual (IMS), kondisi ini dapat meningkatkan risiko terkena IMS.

Tips: BV biasanya diobati dengan antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Jika Anda mencurigai mengalami BV, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

4. Infeksi Menular Seksual (IMS)
Beberapa infeksi menular seksual, seperti klamidia atau gonore, dapat menyebabkan perubahan pada cairan vagina. Infeksi ini dapat menyebabkan cairan vagina menjadi lebih kental, disertai dengan bau yang tidak sedap atau warna yang tidak biasa. Gejala lainnya bisa mencakup nyeri saat buang air kecil, nyeri panggul, dan perdarahan di luar siklus menstruasi.

Tips: Jika Anda aktif secara seksual, disarankan untuk menjalani pemeriksaan IMS secara rutin. Jika Anda mengalami gejala-gejala yang mencurigakan, segera kunjungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

5. Dehidrasi atau Pola Makan yang Tidak Sehat
Dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh bisa memengaruhi keseimbangan cairan tubuh, termasuk cairan vagina. Pola makan yang buruk, kekurangan nutrisi, atau konsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan juga dapat memengaruhi produksi cairan tubuh, termasuk cairan vagina. Hal ini bisa menyebabkan cairan vagina menjadi lebih kental dan lengket.

Tips: Pastikan Anda cukup minum air putih setiap hari dan konsumsi makanan bergizi untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan, termasuk kesehatan vagina.

6. Kehamilan
Pada masa kehamilan, tubuh wanita mengalami perubahan hormon yang signifikan, yang dapat memengaruhi produksi cairan vagina. Banyak wanita yang mengalami peningkatan cairan vagina yang lebih kental dan lengket pada trimester pertama dan kedua kehamilan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron.

Tips: Cairan vagina yang meningkat selama kehamilan biasanya normal, tetapi jika cairan tersebut berbau tidak sedap atau disertai dengan gejala lain seperti gatal atau nyeri, segera konsultasikan dengan dokter.

Cara Mengatasi Cairan Vagina Kental dan lengket
Menjaga Kebersihan Vagina
Menjaga kebersihan vagina dengan cara yang tepat sangat penting. Hindari penggunaan sabun yang mengandung pewangi atau bahan kimia keras yang dapat mengganggu keseimbangan pH vagina. Cukup gunakan air hangat untuk membersihkan area genital, dan pastikan untuk selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah bakteri masuk ke dalam vagina.

Gunakan Pakaian Dalam yang Nyaman dan Menyerap Keringat
Pilih pakaian dalam yang terbuat dari bahan alami seperti katun, yang memungkinkan kulit "bernapas" dan menyerap keringat. Hindari pakaian dalam yang terlalu ketat atau terbuat dari bahan sintetis yang dapat menyebabkan kelembapan berlebih, yang dapat memicu pertumbuhan bakteri atau jamur.

Konsultasikan dengan Dokter
Jika cairan vagina yang kental dan lengket disertai dengan gejala lain seperti gatal, bau tidak sedap, atau rasa terbakar, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti dan memberikan pengobatan yang sesuai.

Jaga Kesehatan Seksual
Jika Anda aktif secara seksual, penting untuk menggunakan perlindungan (seperti kondom) untuk mencegah infeksi menular seksual yang bisa memengaruhi kesehatan vagina. Selain itu, pastikan Anda dan pasangan menjaga kebersihan pribadi sebelum dan sesudah berhubungan seksual.


Editor : Firda Rachmawati