AACSB Berharap SBM ITB Menjadi Ujung Tombak Peningkatan Kualitas Sekolah Bisnis di Indonesia

Executive Vice President AACSB International AACSB, Geof Perry berharap SBM ITB dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus ujung rombak pengembangan sekolah bisnis di Indonesia.

AACSB Berharap SBM ITB Menjadi Ujung Tombak Peningkatan Kualitas Sekolah Bisnis di Indonesia
Prof. Dr. Aurik Gustomo (Dosen SBM ITB) 2. Dr. BM. Purwanto (LAMEMBA) 3. Geof Perry, Ph.D, FCPA (AACSB International) 4. Prof. Tjandra Anggraeni (Plt. WDA SBM ITB) 5. Prof. Abdul Rahman Kadir (AFEBI) 6. Dr. N. Nurlaela Arief (Dosen SBM ITB) saat jumpar pers, Selasa, 9 Agustus 2023 (Foto Syamsoeddin Nasoetion)

INILAHKORAN,Bandung,- Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) selaku lembaga akreditasi Internasional berharap SBM ITB dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus ujung rombak pengembangan sekolah bisnis di Indonesia.

Harapan tersebut disampaikan mengingat, berbagai pengembangan pendidikan yang telah dilakukan SBM ITB selama ini. Hal tersebut disampaikan Executive Vice President AACSB International AACSB, Geof Perry dalam jumpa pers bersama sejumlah wartawan, Selasa, 9 Agustus 2023.

Geof Perry sendiri juga tampil sebagai narassumber dalam seminar  bertema "Developing Quality Assurance for the Future, Opportunities and Future Directions of Business and Management Education in Indonesia", yang digelar dua hari berturut-turut di Kampus SBM ITB.

Menurut Geof Perry, AACSB sebagai organisasi akreditasi sekolah bisnis terbesar dan bergengsi di dunia bersama LAMEMBA dan juga AFEBI terus mendorong kolaborasi untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi atau sekolah bisnis di Indonesia.

Menurut Geof, saat ini hanya baru 4 Sekolah Bisnis Indonesia yang telah terakreditasi International AACSB.Empat perguruan tinggi tersebut yaitu SBM ITB, UGM, Binus dan UI.
"Saat ini terdapat 4 sekolah bisnis atau fakultas yang sudah terakreditasi AACSB di Indonesia, diantaranya UGM, SBM ITB, Binus, dan UI. Inilah yang menjadi tantangan ke depan bagi sekolah bisnis di Indonesia," ungkapnya.

Menurutnya, AACSB memiliki tiga tujuan utama, pertama external validation untuk standar global, membuka koneksi internasional (network), framework untuk meningkatkan kualitas sekolah bisnisnya. 

"Masing-masing sekolah bisnis memiliki visi dan misinya tersendiri serta identitasnya tersendiri, AACSB tidak akan mengubah itu, hanya fokus pada tiga tujuan utama tersebut. Kemudian di sini selama dua hari akan diceritakan juga bagaimana  sekolah-sekolah bisnis ini bisa saling berbagi terkait dengan kualitasnya," ungkap Geof
 
Di tempat yang sama, Majelis Akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA), Dr. BM. Purwanto mengungkapkan, terkait standar akreditasinya, dari sekian banyak sekolah dan universitas di Indonesia baru hanya 4 perguruan tinggi yang sudah terakreditas AACSB, tak lain karena standar yang sangat tinggi.

"AACSB itu usianya sudah lebih dari 100 tahun mengakreditasi sekolah bisnis, serta memiliki standard yang sangat tinggi. Penilaian yang kuat dan tinggi tersebut terdapat pada jaminan mutu pembelajaran, itu harus terukur dan detail, dan mereka memperhatikan juga kualifikasi para dosen, dosennya harus memiliki pendidikan yang tuntas hingga S3. Itulah yang mungkin selama ini alasan baru hanya empat kampus yang terakreditasi," ungkapnya.

Menurut Purwanto, dosen juga tidak hanya cukup sampai S3, tapi juga mempunyai praktik professional dan juga melakukan kajian-kajian ilmiah pada bidang yang diajarkan. Dua hal tersebut menjadi persyaratan yang very demanding, sangat sulit. 

"Tetapi bukan berarti Indonesia tidak bisa, Indonesia itu negara yang sangat besar, dan kita sudah mulai dipertimbangkan di banyak hal, tetapi pendidikan inikan yang menjadi salah satu strategis," tambah Purwanto. 
 
Dia menambahkan, LAMEMBA mendapatkan tugas dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan bisnis, manajemen, akuntansi, dan ekonomi di Indonesia, karenanya LAMEMBA terus berkolaborasi dengan AACSB

"Sehingga kemudian standar LAMEMBA itu juga sudah cukup, kita memiliki tingkatan akreditasi Baik, Baik Sekali, dan Unggul. Nah yang Unggul ini nanti kita lihat lagi lebih spesifik yang bisa kita dampingi untuk mendapat akreditasi AACSB," tegasnya.
 
"Tapi itu membutuhkan waktu, dan masalah di kita itu adalah rasa kurang percaya diri. Sebetulnya kebanyakan sekolah bisnis good enough for AACSB tapi tidak memiliki rasa kepercayaan diri. Semakin banyak sekolah di Indonesia yang terakreditasi oleh lembaga internasional, semakin berpeluang membuka kolaborasi mitra global," tegas Purwanto. 
 
Sementara itu, Abdul Rahman Kadir dari Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI), mendorong seluruh akreditasi unggul untuk masuk ke standar AACSB

"Kami berharap sekolah bisnis ITB bersama AFEBI untuk membuat standarisasi-standarisasi yang meningkat. Itulah mengapa hari ini sebenarnya sudah mulai, bahwa Indonesia sudah berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan bisnis dengan melalui pengakuan-pengakuan internasional. Tidak hanya setelah akreditasi langsung selesai, tapi terus mempertahankan kualitasnya. Kita terus meningkatkan standar sekolah, terutama pada kapasitas individu. Jadi harus benar-benar  profesional sebagai dosen, mereka harus menjadi peneliti, sehingga bahan-bahan penelitian tersebut bisa diajarkan kepada mahasiswa," harapnya.***


Editor : Ghiok Riswoto