Akibat Cuaca, Produktivitas Perajin Keramik Plered Anjlok
Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta selama ini bergantung hidup pada kerajinan kriya. Keberadaan tanah liat yang melimpah ruah di wilayah barat kabupaten kecil ini mungkin yang menjadi alasannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Purwakarta - Sebagian besar masyarakat di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta selama ini bergantung hidup pada kerajinan kriya. Keberadaan tanah liat yang melimpah ruah di wilayah barat kabupaten kecil ini mungkin yang menjadi alasannya.
Tak heran, jika selama ini Kecamatan Plered merupakan sentra kerajinan kriya. Seperti keramik hias, tembikar, genteng dan pot bunga. Sejauh ini, kemasyuran kerajinan kriya khas wilayah itu sudah terdengar hingga mancanegara. Terutama, wilayah Asia Tenggara dan Eropa.
Namun sayang, di musim hujan seperti sekarang ini produktivitas kerajinan kriya cenderung menurun. Mengingat, dalam proses pembuatan keramik ini cenderung lebih banyak mengandalkan pemanasan dari sinar matahari.
Salah seorang perajin keramik, Yudi (35) warga Desa Anjun menuturkan, sejak beberap pekan ini produksi keramik sedang mengalami kelesuan. Sebab, selama ini panas matahari lebih diandalkan untuk proses pengeringan keramik.
"Proses pengeringan, kami lebih mengandalkan panas matahari (dijemur), karena menjadikan kualitas keramik lebih bagus," ujar Yudi kepada wartawan, Jumat (28/2/2020).
Menurut Yudi, faktor cuaca cukup mempengaruhi produktivitas. Salah satunya, waktu proses pembuatan keramik menjadi lebih lama. Jadi, jika di cuaca panas biasanya sehari atau dua hari bisa kering. Tapi, sekarang bisa sampai seminggu.
"Prosesnya jadi lebih lama. Sehingga, produksi keramik pun menjadi tersendat," jelas dia.
Memang, kata dia, sebenarnya masalah cuaca bukan menjadi halangan untuk memproduksi gerabah keramik ini. Terlebih, saat ini banyak pesanan yang mesti dibuat. Salah satu cara mereka untuk mempercepat pengeringan keramik-keramik ini, yakni dengan menyimpan keramik tersebut di atas rak-rak bambu yang di bawahnya ada tungku pembangkaran.
"Kalau penurunan pemesanan sih tidak ada. Hanya saja, jumlah barang yang dipesannya sedikit menurun," tambah dia.
Sementara itu, Kepala UPTD Sentra Keramik Plered, Mumun Maemunah mengakui memang masalah cuaca sangatlah mempengaruhi dalam produksi gerabah keramik Plered ini.
"Sekarang mereka (pengrajin) sedang memenuhi permintaan dari Bogor, Cirebon, Bali, Bandung, dan Jakarta hingga ke luar daerah maupun luar negeri seperti India," katanya.
Sebagai informasi, pengrajin keramik di Plered Purwakarta ini membuat produk keramik jenis fungsi dan hias, mulai perlengkapan rumah tangga, pot bunga, hingga hiasan dan kerajinan. (Asep Mulyana)
Editor : Doni Ramdhani


