Aksi Mogok Ronaldo Tunjukkan Batasan Kekuasaan Individu di Liga Pro Saudi
Cristiano Ronaldo tunjukan kekuasaan dengan melakukan aksi mogok main untuk Al Nassr dan PIF.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Aksi mogok main dan latihan Cristiano Ronaldo di Al Nassr telah menjadi sorotan.
Cristiano Ronaldo tidak datang ke Al Nassr hanya untuk bermain sepak bola. Kehadirannya dimaksudkan untuk meningkatkan citra, prestise, dan visibilitas global Liga Pro Saudi itu sendiri.
Perpanjangan kontrak yang Cristiano Ronaldo tandatangani Juli lalu, yang berlaku hingga 2027 dan dilaporkan memberinya penghasilan hampir £488.000 per hari, menempatkan Ronaldo pada posisi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Arab Saudi.
Tidak ada pemain lain yang menggabungkan nilai olahraga elit dengan peran simbolis mewakili strategi kekuatan lunak nasional dalam skala sebesar ini.
Dalam hal ini, Cristiano Ronaldo bukan hanya seorang pesepakbola, tetapi dia adalah sebuah proyek.
Ronaldo lebih dari sekadar striker Al Nassr. Dia tampil di acara-acara diplomatik tingkat tinggi, bertemu dengan para pemimpin politik, dan berinteraksi dengan beberapa tokoh bisnis paling berpengaruh di dunia.
Ketika Ronaldo menyatakan, “Saya milik Arab Saudi,” itu bukanlah pernyataan biasa. Itu adalah pernyataan identitas dan posisi.
Ronaldo telah merangkul peran di mana dia bukan hanya seorang karyawan pemilik klub kaya, tetapi juga tokoh sentral dalam narasi nasional yang lebih luas.
Dan karena Ronaldo telah diberikan begitu banyak, ekspektasinya pun meningkat seiring dengan itu.
Ronaldo percaya bahwa Al Nassr harus diinvestasikan sebanding dengan kedudukannya. Dia percaya bahwa klub yang menyandang namanya di panggung global harus setara dan tidak lebih tinggi dari Al Hilal.
Ketika jendela transfer Januari ditutup tanpa kabar, perasaan tersisihkan itu mulai terasa.
Titik Pemicu mogok main
Pada saat yang sama, Al Hilal rival langsung Al Nassr dan juga berada di bawah kendali Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi, menyelesaikan perekrutan Karim Benzema dari Al Ittihad.
Kontrasnya sangat mencolok. Dan bagi seorang pemain yang terbiasa berada di pusat kekuasaan, hal itu sudah cukup untuk memprovokasi reaksi.
Menurut A Bola, Ronaldo menolak bermain dalam pertandingan 2 Februari melawan Al Riyadh sebagai protes terhadap kebijakan transfer.
Perlu dicatat, Benzema sendiri sebelumnya pernah melakukan "mogok" serupa untuk memaksa kepindahannya.
Dua superstar global, dua tindakan pembangkangan, satu sistem kepemilikan. Namun justru di sinilah batasan kekuasaan individu menjadi terlihat.
Dari perspektif olahraga, argumen Ronaldo bukannya tanpa dasar. Dia tetap menjadi titik fokus serangan Al Nassr, terus mencetak gol, dan mempertahankan level performa elit di usia 41 tahun.
Namun sepak bola bukanlah pertunjukan solo. Skuad yang kurang kedalaman tidak dapat mempertahankan persaingan gelar yang panjang.
Kesenjangan antara penilaian pribadi Ronaldo dan strategi liga secara keseluruhan mulai melebar.
Apa yang Ronaldo anggap sebagai kebutuhan dalam sepak bola bertentangan dengan visi yang dikelola secara terpusat yang memprioritaskan keseimbangan, citra, dan perencanaan jangka panjang di atas tuntutan individu.
Dalam sepak bola Eropa, reaksi Ronaldo akan terasa familiar. Di sana, bintang-bintang dengan reputasi yang cukup tinggi dapat menekan klub untuk bertindak.
Namun, Liga Pro Saudi tidak beroperasi berdasarkan logika tersebut. Ini adalah sistem dari atas ke bawah.
kekuasaan tidak berada di ruang ganti, tetapi di tingkat strategis. PIF tidak membangun liga ini di sekitar satu orang bahkan jika orang itu adalah Cristiano Ronaldo.
Paradoks ini membuat Ronaldo tidak sinkron. Dia dipuja seperti raja, namun sebenarnya tidak pernah benar-benar duduk di singgasana.
Investasi besar Arab Saudi di bidang sepak bola telah menciptakan lingkungan di mana para superstar yang sudah lanjut usia mendapatkan gaji yang sangat besar dan memiliki kekuatan citra yang luar biasa, tetapi pada dasarnya tetap bergantung pada otoritas negara. Mereka dimanjakan tetapi hanya dalam batasan yang jelas.
Ronaldo membangun warisannya berdasarkan profesionalisme yang mutlak. Kisah-kisah tentang rutinitas latihan tanpa henti, di mana pun dia bermain, mendefinisikan seorang pria yang terobsesi dengan kemenangan. Ribuan jam disiplin telah membentuk Cristiano Ronaldo.
Kini, sosok yang sama, identik dengan ketertiban dan kendali telah memilih untuk menentang disiplin, menyuarakan frustrasi dalam sistem di mana kekuasaan mengelilinginya dari segala arah.
Penolakannya untuk bermain bukan hanya protes transfer, itu adalah benturan dengan batas kekuasaannya sendiri.
Ini bukan lagi sekadar tentang sepak bola, atau tentang perekrutan pemain. Ketegangan mungkin mereda, atau mungkin tidak.
Tetapi momen ketika Ronaldo absen dari lapangan mengungkapkan kebenaran yang tidak menyenangkan di tengah perebutan kekuasaan, dia bukanlah orang yang menggerakkan bidak-bidak di papan catur.***
Editor : Irma Nurfajri


