Akumulasi 1.500 Bencana Sepanjang 2025, BPBD Jabar Bunyikan Alarm Nataru 2026
Lonjakan kejadian bencana sepanjang 2025 menjadi peringatan serius menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Lonjakan kejadian bencana sepanjang 2025 menjadi peringatan serius menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat menegaskan, hampir seluruh wilayah Jabar berada dalam kategori rawan bencana hidrometeorologi, dengan risiko yang meningkat seiring puncak musim hujan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun menekankan, karakter geografis Jabar membuat ancaman bencana tidak bersifat sporadis, melainkan sistemik dan merata.
“Hampir seluruh wilayah Jabar rawan bencana, untuk sekarang di Jabar selatan yang rata-rata di banjir, longsor dan cuaca ekstrem,” ujar Teten, Senin 22 Desember 2025.
Wilayah selatan Jawa Barat menjadi titik perhatian utama. Topografi bergunung dan curah hujan tinggi meningkatkan potensi banjir dan longsor, sementara kawasan utara menghadapi ancaman banjir rob akibat pasang air laut.
“Kemudian banjir rob di beberapa tempat, di utara tapi kalau di selatan itu dengan di tengah ada banjir dan longsor, karena daeranya bergunung-gunung,” katanya.
Didominasi Cuaca Ekstrem
Data BPBD mencerminkan tingkat kerawanan tersebut. Sepanjang periode 1 Januari hingga 22 Desember 2025, tercatat 1.500 kejadian bencana di Jawa Barat. Cuaca ekstrem mendominasi dengan 760 kejadian, disusul tanah longsor 439 kejadian, dan banjir sebanyak 278 kejadian. Selain itu, tercatat pula kekeringan sebanyak lima kejadian, kebakaran lahan 12 kejadian, serta enam kejadian gempa bumi.
Dampaknya tidak kecil. Sebanyak 1.753 rumah mengalami rusak berat, 3.782 rusak sedang, dan 9.441 rusak ringan. Bencana banjir juga menyebabkan 163.092 rumah terendam, dengan 4.613 jiwa terpaksa mengungsi hingga akhir Desember 2025.
Menghadapi periode libur panjang yang beririsan dengan puncak musim hujan, BPBD Jawa Barat menyiagakan sistem kesiapsiagaan terpadu. Personel disebar di 27 kabupaten dan kota, dengan masing-masing posko diisi dua hingga tiga petugas.
“Jadi posko nya itu ada yang beririsan dengan teman-teman instansi lain gitu ya TNI/Polri ada juga yang mandiri, khususnya di daerah-daerah rawan bencana, itu kami siapkan pos sendiri,” ucapnya.
Kesiapan Sarana Evakuasi
Selain sumber daya manusia, BPBD Jabar juga memastikan kesiapan sarana evakuasi dan penguatan koordinasi di tingkat akar rumput.
“Kita juga sudah siapkan di masing-masing posko tersebut alat-alat evakuasi dengan berkordinasi bersama tiap kelurahan dan desa dengan memberikan imbauan untuk antisipasi bencana,” tuturnya.
Teten menambahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan status siaga bencana hingga April 2026. Penetapan ini sejalan dengan prakiraan musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga periode tersebut, sekaligus menjadi dasar penguatan respons cepat lintas sektor.
Dengan tingginya akumulasi kejadian bencana sepanjang 2025, BPB.***
Editor : JakaPermana
