INILAHKORAN, Bogor - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meminta Rumah Sakit (RS) SeKota Bogor menyediakan tempat tidur khusus Covid-19 hanya bagi pasien yang bergejala sedang dan berat atau yang betul-betul memerlukan perawatan secara intensif.
Bahkan Bima juga sudah menggelar rapat koordinasi secara virtual bersama Pimpinan Rumah Sakit SeKota Bogor dalam rangka menangani lonjakan kasus Covid-19 di Kota Bogor.
Diketahui angka penambahan kasus Positif Covid-19 perhari pada Jumat (4/2/2022) mencapai 336 orang. Sehingga angka pasien yang masih sakit setelah beberapa hari sebelumnya penambahan diatas 100 pasien positif perhari mencapai 1141 pasien. Untuk angka kesembuhan perhari dihari yang sama mencapai 35 orang.
"Tempat tidur di rumah sakit betul-betul diprioritaskan bagi pasien dengan gejala sedang, berat dan kritis," ungkap Bima pada Sabtu (5/2/2022).
Bima melanjutkan, langkah ini dimaksudkan untuk mengendalikan angka ketersediaan tempat tidur juga berdasarkan instruksi Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin yang diturunkan kepada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. RS juga harus update data-data terbaru, khususnya ketersediaan tempat tidur di bawah koordinasi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor.
"Berdasarkan surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes), konversi tempat tidur minimal 30 persen. Persentase komposisi pasien berdasarkan kondisi klinis secara berkala ini ditujukan untuk mengetahui tingkat keterpaparan pasien. Kami ingin memastikan tidak ada pasien yang ringan tetapi dilakukan rawat inap," jelasnya.
Bima juga mengatakan, kondisi saat ini di Kota Bogor terjadi secara cepat dan diluar prediksi yang seharusnya peningkatan diprediksi diakhiri Februari 2022.
"Sehingga persiapan rumah sakit dari berbagai aspek harus diperhatikan secara benar-benar," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno menuturkan, persiapan secara menyeluruh dari berbagai aspek harus dilakukan seluruh rumah sakit di Kota Bogor, diantaranya menyediakan tempat tidur isolasi minimal 30 persen konversi dengan evaluasi harian, kemudian menyiapkan fasilitas ICU untuk isolasi Covid-19.
"Ya, saat ini angka tempat tidur dan ICU masih diangka 18 persen. Kemudian obat-obatan, oksigen, tenaga kesehatannya, beban dan pengaturan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini Tenaga Kesehatan (Nakes) itu penting, agar pengalaman yang sudah-sudah (kekurangan nakse-red) tidak terulang lagi," tutur Retno.
Retno menegaskan, karena itu untuk pasien Covid-19 dengan kriteria Orang Tanpa Gejala (OTG) dan ringan, cukup menjalani isolasi mandiri (Isoman) atau ke pusat isolasi terpadu. Bagi masyarakat pasien positif Covid-19 yang mampu secara ekonomi, bisa menjalani Isoman di hotel yang bekerja sama dengan rumah sakit dan berkoordinasi Dinkes Kota Bogor.
"Karena pemantauan dilakukan oleh kami (Dinkes-red). Jadi rumah sakit boleh kerja sama dengan hotel untuk OTG dan gejala ringan, tentunya berkoordinasi dengan Dinkes," pungkasnya.(rizki Mauludi)***