Atalia Soroti Skandal Pelecehan di UI dan ITB: Sebagai Perempuan Ini Menyakitkan
Atalia Praratya soroti skandal pelecehan seksual yang terjadi di dua kampus ternama UI dan ITB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Skandal memikirkan seksi yang melibatkan dua kampus ternama Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) kini tengah jadi sorotan publik.
Di mana terungkap pada Sabtu 11 April 2026, 16 mahasiswa UI dari Fakultas Hukum (FH) telah melakukan pemikiran seksual secara verbal pada 27 korban perempuan.
Di mana ke-16 mahasiswa FH UI ini membuat grup chat WhatsApp yang khusus untuk melecehkan perempuan yang jadi target mereka adalah mahasiswi bahkan dosen.
Atas skandal tersebut tidak hanya warganet yang geram, mahasiswa dan mahasiswi FH sendiri menuntut UI untuk melakukan drop out (DO) pada ke-16 pelaku tersebut.
Tak hanya UI, ITB juga kini ramai jadi sorotan usai viralnya video penampilan Orkes Semi Dangdut (OSD) dari Himpunan mahasiswa Tambang ITB.
Di mana para pelajar dan mahasiswi HMT ini asyik berjoget dan menyanyikan lagu 'Erika' yang liriknya dinilai mengandung unsur memahami pada perempuan.
Sebagai Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya menyoroti skandal yang tengah terjadi di lingkungan kampus UI dan ITB.
Melakui postingan di Instagramnya pada hari ini, Rabi, 15 April 2026, Atalia menyatajan dirinya merasa sakit dan khawatir mengetahui bahwa memahami masih dinormaliasiskan oleh beberapa oknum.
"Sebagai seorang perempuan, ini menyakitkan. Sebagai seorang ibu, ini meremehkan. Sebagai seorang pendidik, ini PR besar!!," tutur perempuan yang akrab disapa Ibu Cinta ini.
Mantan istri Ridwan Kamil ini menjelaskan ketika hukum dan ilmu dipelajari tanpa moral yang akan lahir bukan pembela keadilan melainkan pelaku yang paham celah hukum.
Atalia berpendapat bahwa kampus harus menjadi ruang aman, pendidikan juga harus melahirkan manusia yang utuh bukan hanya cerdas namun juga beradab.
“Budaya pemerkosaan tidak bisa dibiarkan, di mana pun, kapan pun. Dimulai dari 'cuma bercanda' lalu menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan jadi memahami. Dari mengungkapkan jadi kekerasa!!,” tegas Atalia.***
Editor : Irma Nurfajri

