Awal Tahun Kasus DBD Meningkat, Dinkes Jabar Lakukan Sejumlah Penanganan

Awal tahun ini, terdapat peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jabar dari pekan pertama hingga keempat pada Januari 2020 Kota Bandung menjadi wilayah yang memiliki kasus terbanyak yaitu sebanyak 218 kasus.

Awal Tahun Kasus DBD Meningkat, Dinkes Jabar Lakukan Sejumlah Penanganan
net

INILAH, Bandung - Awal tahun ini, terdapat peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di Jabar dari pekan pertama hingga keempat pada Januari 2020 Kota Bandung menjadi wilayah yang memiliki kasus terbanyak yaitu sebanyak 218 kasus.

Diketahui, selama Januari 2020 tercatat 1.798 kasus. Adapun pada pekan pertama 277 kasus, pekan kedua 406 kasus, pekan ketiga 508 kasus, dan pekan keempat 607 kasus. Terdapat peningkatan kasus DBD dari pekan I-IV Januari 2020.

Kepala Dinas Kesehatan Jabar Berli Hamdani Gelung Sakti mengatakan, untuk pekan pertama dan kedua Februari ini data kasus masih diverifikasi data berhubung Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) sedang dalam gangguan. Tapi pemantauan secara email dan WA tetap berjalan.

“Tetapi bila dibandingkan dengan kasus bulan Januari 2019 yang mencapai total kasus 4.505, maka jumlah kasus masih di bawah yaitu 1.798 kasus pada Januari 2020,” ujar Berli.

Sejauh ini, dia mengatakan terdapat dua kasus kematian terkonfirmasi DBD di Jabar yakni di Kabupaten Cirebon dengan wilayah yang berbeda. 

Berdasarkan aturan dari Kementerian Kesehatan, dengan adanya kasus kematian itu pemerintah daerah bisa menyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Nantinya penanganan akan ekstra dari biasanya dan akan melibatkan berbagai sektor. 

Hanya saja, hingga saat ini belum ada daerah yang menyatakan kasus DBD sebagai KLB, kemungkinan pemerintah daerah masih mampu menanganinya. 

Selebihnya, kata dia, pihaknya terus melakukan langkah-langkah penanganan DBD. Di antaranya promosi kesehatan pelaksanaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M (menguras, menutup dan mendaur ulang) plus, penyelidikan epidemiologi kasus, pembagian abate, revitalisasi jumantik(juru pemantau jentik), evaluasi pemantauan jentik berkala, dan fogging focus dengan 2 siklus. Dan tidak kalah penting surveilans melalui SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) di setiap Dinkes se-Jabar.

“Untuk revitalisasi jumantik, selama ini kan sudah berjalan program satu rumah satu jumantik. Sekarang anak sekolah atau anggota keluarga yang bersangkutan ikut dilibatkan sebagai jumantik,” kata dia.

Sedangkan, untuk fogging fokus dilakukan pada daerah dengan radius 100 meter dari rumah penderita terkonfirmasi DBD. Kalau dua siklus artinya pada siklus yang diduga merupakan waktu penyebaran DBD.

Dia menambahkan, terkait DBD faktor cuaca kemungkinan besar sangat berpengaruh pada tempat perindukan nyamuk, termasuk perilaku masyarakat membuang sampah karena sampah juga bisa jadi tempat sarang nyamuk.

"Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," ucapnya.

Lebih lanjut, jumlah kasus DBD di Provinsi Jabar selama 2019 mengalami lonjakan yang cukup signifikan dari tahun sebelumnya. Pada 2019 tercatat 23.296 kasus dan angka kematian akibat DBD 145 kasus. Sedangkan pada 2018 lalu, mencapai 11.107 kasus dan 55 orang dinyatakan meninggal akibat DBD. 

Adapun kasus tertinggi di Kota Depok pada tahun 2019 sebanyak 3.267 kasus dengan kematian tertinggi di Kabupaten Bogor sebanyak 56 jiwa.

Berli mengatakan, 2019 merupakan waktu siklus lima tahunan DBD. Jadi DBD sebagai ancaman wabah kasus, punya siklus lima tahunan terjadi outbreak alias kejadian luar biasa (KLB) DBD yang selain angka jumlah kasus dua kali lipat, jumlah kematiannya pun kadang sampai tiga kali lipat kematian setiap tahunnya.

“Contoh 2018 ada 55 kematian, sedangkan 2019 menjadi 145 kematian. Siklus tahunan dan siklus tahunan DBD ini berlaku terjadi di seluruh daerah endemis DBD di Indonesia," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)


Editor : Doni Ramdhani