Azis Sefudin Nilai, Budaya Lokal Cianjur Jadi Benteng Nyata Menjaga Empat Pilar Kebangsaan
Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin menegaskan, bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan tidak bisa dilepaskan dari budaya lokal yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Di Kabupaten Cianjur, menurutnya, nilai-nilai kebangsaan justru telah lama berakar kuat melalui kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Anggota Komisi VIII DPR RI, Muhamad Abdul Azis Sefudin menegaskan, bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan tidak bisa dilepaskan dari Budaya lokal yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat. Di Kabupaten Cianjur, menurutnya, nilai-nilai kebangsaan justru telah lama berakar kuat melalui kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Azis menilai, Budaya masyarakat Cianjur dengan nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh menjadi praktik nyata dari Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar konsep normatif, melainkan telah menjadi cara hidup masyarakat sehari-hari.
“Budaya masyarakat Cianjur dikenal dengan nilai silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai-nilai ini sejalan dengan Empat Pilar Kebangsaan dan menjadi kekuatan dalam menjaga kerukunan serta persatuan,” ujar Kang Azis, sapaan akrab Muhamad Abdul Azis Sefudin, dalam keterangannya, Kamis 22 Januari 2026.
Politisi muda PDI Perjuangan ini menekankan, pendekatan kebudayaan menjadi strategi paling efektif dalam membumikan nilai kebangsaan di tengah masyarakat. Ia menilai, sosialisasi Empat Pilar akan kehilangan makna jika hanya bersifat seremonial tanpa menyentuh realitas sosial dan Budaya warga.
“Kita harus terus menjaga dan menjalankan ini dalam keseharian kita,” ucapnya.
Azis menegaskan, nilai-nilai kebangsaan sejatinya tidak pernah terpisah dari kehidupan masyarakat Cianjur. Menurutnya, Pancasila dan Empat Pilar bukan ide asing, melainkan refleksi dari praktik hidup yang sudah lama dijalankan warga dalam menjaga harmoni sosial, kebersamaan, dan saling menghormati.
Di tengah dinamika sosial dan tantangan zaman yang terus berkembang, ia menilai penguatan nilai kebangsaan berbasis kearifan lokal menjadi kunci penting mencegah perpecahan sosial. Pendekatan ini, kata dia, mampu memperkuat solidaritas masyarakat tanpa harus memaksakan konsep yang kaku.
“Kalau nilai Budaya dan kebangsaan berjalan beriringan, masyarakat akan lebih kuat menghadapi perbedaan dan tantangan zaman,” imbuhnya.
Lebih jauh, legislator dari Daerah Pemilihan Kabupaten Cianjur–Kota Bogor ini menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya bertumpu pada aspek fisik dan ekonomi. Fondasi sosial yang rukun, berkarakter, dan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa justru menjadi penentu keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
Menurutnya, penguatan Empat Pilar Kebangsaan melalui Budaya lokal tidak hanya menjaga persatuan, tetapi juga membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan berdaya saing.
“Bangsa yang maju tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga oleh masyarakat yang rukun, berkarakter, dan memiliki nilai bersama. Di situlah Empat Pilar Kebangsaan menjadi fondasi utama,” tandasnya.***
Editor : JakaPermana


